• 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Sepak Terjang Dari Komandan Kafilah, Abu Zubair Al-Iraqi

#1
[Image: C6F3wldXQAEmqAD.jpg]

Abu Zubair al-Iraqi, Arkan Jasim Muhammad al-‘Izawi taqabbalahullah. Lahir pada tahun 1401 H diantara kebun-kebun kampung as-Sadah yang terletak di timur laut Ba’quba, Provinsi Diyala. Di kampung ini pasukan salibis pernah terhinakan dan jasad mereka tercerai-berai. Masa-masa mudanya dilaluinya di sana. Kemudian ia pindah ke Ba’quba dan bekerja sebagai tukang kayu untuk mencari rizki dan memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan keluarganya. 

Setelah invasi Salibis atas Irak pada tahun 1423 H, kesatria kita meninggalkan pekerjaannya demi berjihad dan mengangkat senjata. Ditinggalkannya semua yang menyibukannya dari kewajiban agung ini. Aktivitasnya bersama kawan-kawannya lebih menyerupai aksi individu hingga akhirnya berbaiat kepada Syaikh Abu Mus’ab Az-Zarqawi rahimahullah pada penghujung tahun 1424 H. Inilah awal perjalanan jihadnya yang diberkahi ini.

Ksatria kita ini mengomandoi sebuah detasemen militer di salah satu sektor Ba’quba bersama Syaikh Abu Dawud rahimahullah pada tahun 1425 H. Tahun ini adalah tahun yang penuh bencana bagi para murtadin dan tuan-tuan mereka di Ba’quba dan sekitarnya. Operasi terpentingnya ketika itu adalah amaliyah istisyhadiyah atas Dewan Kepolisian Ba’quba yang berhasil menewaskan puluhan personil relawan kepolisian Rafidhah. Perang berkecamuk semakin sengit. Beliau mempunyai andil besar dalam menyalakan bara api pertempuran. Terjadilah sebuah operasi penyerangan atas Polres Mafraq, yang memakan banyak korban dari musuh-musuh Allah. Abu Zubair menunaikan tugasnya dengan baik pada fase itu.

Kemudian beliau menjadi komandan militer distrik as-Sadah atas perintah Syaikh Abu Jabir rahimahullah dikarenakan beliau yang paling memahami daerah tersebut beserta karakter penduduknya. Di sana beliau dikenal sebagai Abu Umar.

Pada tahun 1426 H beliau di amanahi sebagai** komandan militer sektor Syahraban**. Perannya sangat menonjol dalam berbagai macam operasi yang berhasil melumat tulang-tulang pasukan salibis. Operasi-operasi itu ikut andil dalam membersihkan desa-desa Syahraban dari najisnya rafidhah musyrik seperti desa Abu Karmah, Zahrah dan Abdul Hamid. Amaliyah istisyhadiyah yang dikomandoinya berhasil memanen banyak kepala Salibis dan orang-orang murtad di as-Sadah, diantaranya operasi jembatan al-Jurajiyah yang diberkahi.

Ketika Daulah Islam Irak telah berdiri, ksatria kita adalah salah tokoh yang menjadi pelopor Daulah Islam di wilayah Diyala. Beliau bersama pasukannya semakin menguatkan tekanan atas Salibis dan antek-anteknya di perkebunan Syahraban dan menimpakan kerugian besar kepada mereka.

Hingga para salibis “melahirkan” anak keturunan mereka dari kalangan Shahawat murtad lagi celaka di akhir tahun 1427 H, yang mengharuskan tentara Daulah Islamiyah untuk menghadapi gelombang ini. Syaikh diserahi jabatan sebagai komandan militer di daerah yang sedang dikuasai oleh Shahawat murtad, diantaranya adalah kota Ba’quba. Beliau adalah tokoh pada fase ini. Bom-bom tempel dan ranjau-ranjau menyalak memanen kepala-kepala murtaddin di sana. Pada masa itu Allah memberikan kemampuan pada mujahidin untuk membunuh puluhan gembong-gembong shahawat dan elemen-elemennya.

Pada penghujung tahun 1428 H, Syaikh di tawan dan ditahan di penjara Bucca yang dikendalikan oleh salibis. Beliau dipenjara selama satu tahun delapan bulan. Fase baru berupa i’dad dan persiapan untuk perjalanan jihad yang lain dimulainya. Beliau belajar Aqidah, Tajwid dan Fiqih kepada Syaikh Abu Hafsh al-Iraqi rahimahullah wali Kirkuk. Beliau juga mencurahkan sebagian besar perhatiannya pada materi ilmu kemiliteran. Beliau banyak belajar teori tentang pengembangan senjata dan bom. Selain itu beliau juga menjadi pelatih fisik bagi para ikhwah disana.
Beliau bebas dari tahanan pada pertengahan tahun 1431 H dan kembali lagi ke medan perang. Beliau menjadi amir keamanan sektor Syahraban. Pada salah satu operasi keamanan beliau tertawan lagi untuk kedua kalinya. Kali ini beliau ditahan di penjara milik murtaddin. Allah menakdirkan beliau bebas setelah dua bulan ditahan bersama bebarapa ikhwannya.

Di awal tahun 1434 H, Abul Bara’ (kun-yah beliau saat itu) terpilih sebagai komandan militer umum wilayah Diyala. Beliau membuat pemerintahan Rafidhah terkuras kekuatannya. Beliau mengomandoi beberapa operasi militer penting di sana, diantaranya adalah operasi Dewan al-Afwaj, operasi Kantor Polisi Habhab, dan penyerbuan al-‘Azhim. Kemudian beliau terpilih sebagai wakil Syaikh Abu Abdillah al-Izzi rahimahullah wali Diyala.

Banyaknya tanggung jawab beliau serta kesibukannya tidaklah menghalangi beliau untuk terjun langsung dalam pertempuran. Beliau memimpin langsung pasukannya dalam banyak pertempuran dan menceburkan diri dalam bahaya bersama mereka. Pada salah satu pertempuran di daerah al-Azhim, beliau bertindak sebagai komandan umum, beliau dan pasukannya berhasil mengepung konsentrasi murtaddin di salah satu pangkalan militer. Beliau menyerbu pangkalan militer tersebut dan baku tembak seorang diri melawan para murtadin selama beberapa saat, sedangkan pasukannya hanya melihat keberanian amirnya itu dari luar pagar. Beberapa saat kemudian tiba-tiba terjadi ledakan di dalam pangkalan itu yang membuat hati bergetar dan jiwa menangis. Semua ikhwah berkata Abul Bara’ telah terbunuh. 

Namun secara mengejutkan beliau kembali dalam keadaan tangan terpotong, pakaian terkoyak dan jasad terluka. Sebuah pemandangan yang membuat para Amir dan Komandan tercengang, ketika mendapatinya begitu berani dan tak kenal takut. Disebabkan parahnya luka-luka yang dideritanya itu beliau menghindari medan tempur selama beberapa waktu untuk menjalani pengobatan, karena tubuhnya dipenuhi dengan luka. Akan tetapi beliau masih berkeinginan kuat untuk kembali berperang untuk ikut serta dalam fase-fase jihad terpenting ini. 


Tatkala fajar tamkin telah menyingsing di Fallujah, Syaikh dikirim sebagai komandan militer distrik al-Karmah. Di sana beliau dijuluki Abu Hudzaifah. Beliau memimpin pertempuran-pertempuran yang terjadi. Melalui tangannya Allah menaklukan al-Sijr yang sebelumnya dijadikan benteng oleh tentara rafidhah, yang menjadi pemisah distrik al-Karmah dengan Fallujah, dan membendung serangan shahawat di desa Albu Khnafar. Beliau juga ikut andil dalam memadamkan api yang di sulut oleh shahawat ikwanul murtaddin di kota al-Karmah.

Setelah penaklukan gemilang dan deklarasi Khilafah beliau kembali ke wilayah Diyala sebagai Wali. Kembalinya beliau menjadi kabar kematian bagi Rafidhah di wilayah ini. Beliau mengawasi setiap strategi dan mobilisasi beberapa pertempuran besar di dalam wilayahnya setelah Rafidhah mengira bahwa mereka telah berhasil menguasainya. Operasi Khan Bani Sa’ad, al-Huwaidar dan amaliyah Baldaruz, amaliyah al-Khalish dan operasi-operasi genting lainnya menjadi saksi kehebatan manajemen tempur beliau. Beliau juga mengejutkan Rafidhah dengan keberhasilannya membunuh seorang Rafidhi mujrim Shadiq al-Husainiy di dalam kantornya di Universitas Diyala. Amaliyah ini berpengaruh besar dalam menimbulkan rasa gentar di hati Rafidhah.

Adapun operasi beliau yang paling gemilang adalah perencanaan dan pelaksanaan operasi “Kasrul Quyud” (melepaskan belenggu) atas penjara al-Khalish, yang menjadikan Rafidhan gila karena mengalami kerugian yang amat besar. Operasi ini berhasil membebaskan lebih dari empat puluh ksatria Khilafah, diantaranya adalah komandan militer wilayah Diyala Abu Mu’adz al-Iraqi –Taqabbalahullah- yang akhirnya gugur setelah itu di front ‘Alas di wilayah Karkuk.

Setelah itu Syaikh dibebani untuk mengatur beberapa pertempuran di front ‘Alas dan ‘Ajil di wilayah Karkuk. Beliau adalah seorang musyrif yang langsung terjun ke medan laga. Beliau memimpin puluhan pertempuran dan amaliyah sehari-hari melawan kelompok Hasyad Rafidhi. Beliau juga menjadi pelatih batalyon sniper, di samping kejeniusannya dalam bidang industri militer. Beliau membimbing pembuatan meriam, mortar, roket, anti serangan udara, senapan berat sniper, dan pengembangan bahan peledak. Beliau mengawasi beberapa operasi serangan udara dari pesawat-pesawat kecil seperti dalam sebuah amaliyah atas Tazah Rafidhah. Demikian juga beliau juga mengawasi pembuatan bom mobil dan pelapisan baja.

Kemudian beliau menjadi anggota dalam Haiah Arkan dibawah Dewan Ketentaraan. Beliau menceburkan diri dalam berbagai macam pertempuran sekaligus memimpinnya baik di wilayah Kirkuk maupun Dijlah. Setelah umurnya genap 35 tahun yang mayoritasnya dihabiskan di medan jihad, ajal menjemputnya ketika pesawat salibis membomnya bersama dua kawan seperjuangannya, yaitu Abu Jabir al-Iraqi dan Abu Shiddiq al-Iraqi. Merekapun menyusul kafilah syuada’ yang telah terlebih dahulu berangkat.

Semoga Allah menerima mereka semua, dan mengumpulkan mereka bersama para Nabi, orangorang jujur, dan syuhada’, mereka itu adalah sebaik-baik kawan.
Reply


Digg   Delicious   Reddit   Facebook   Twitter   StumbleUpon  


Users browsing this thread:
2 Guest(s)


  Theme © 2015