• 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Rasulullah dan Para Shahabat Bukan Demonstran

#1
Di antara tokoh-tokoh mereka adalah Abdurahman Abdul Khaliq (mufti besar Ihya’ At-Turats Al-Kuwaiti) yang mengatakan (artinya): “Termasuk metode atau cara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdakwah adalah demonstrasi atau unjuk rasa.” (Al-Fushul Minas Siyasah Asy-Syar’iyyah, hal. 31-32)…
Di sana terdapat kesesatan dan tasyabbuh dengan turut sertanya para wanita dalam demonstrasi.


Demikian itu merupakan kesempurnaan tasyabbuh terhadap orang kafir, baik laki-laki atau perempuan. Karena, kita melihat melalui foto-foto, atau berita lewat radio dan televisi atau selainnya, tentang keluarnya beribu-ribu manusia dari kalangan orang-or­ang kafir Afrika maupun Syiria dan yang lainnya.

Menurut ungkapan orang-orang Syam, keluarnya laki-laki dan wanita dalam keadaan “meleit temkit”. Meleit temkit maksudnya mereka berdesakan antara punggung dengan punggung, atau pinggul dengan pinggul dan Iain-lain…Dari sini, setiap jama’ah hizbiyah, kelompok Islam jelas telah melakukan kekeliruan besar karena tidak menelusuri jalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam merubah keadaan masyarakat. Tidak ada dalam aturan Islam merubah keadaan masyarakat dengan cara bergerombol-gerombol, berteriak-teriak dan demonstrasi (unjuk rasa). Islam mengajarkan ketenangan, dengan mengajarkan ilmu di kalangan kaum muslimin serta mendidik mereka di atas syariat Islam sampai berhasil, walaupun harus dengan waktu yang sangat panjang.

Selengkapnya…Gejolak unjuk rasa atau demonstrasi yang saat ini sedang marak, mengundang komentar banyak pengamat. Sebagian mereka mengatakan: “Aksi ujuk rasa ini dipelopori oleh oknum-oknum tertentu.” Adapula yang berkomentar, “Tidak mungkin adanya gejolak kesemangatan untuk aksi kecuali ada yang memicu atau ngompori.” Sedangkan yang lain berkata: “Demonstrasi ini adalah ungkapan hati nurani rakyat”. Demikian komentar para pengamat tentang demonstrasi yang terjadi di hampir semua universitas di Indonesia. Sebagian mereka menentangnya dan menganggap para mahasiswa itu ditunggangi oleh pihak-pihak tertentu. Sebagian lain justru mendukung mati-matian dan menganggapnya sebagai jihad.


Namun dalam tulisan ini kita tidak menilai mana pendapat pengamat yang benar dan mana yang salah. Tetapi kita berbicara dari sisi: Apakah demonstrasi ini bisa digunakan sebagai sarana / alat dakwah kepada pemerintah atau tidak? Atau, apakah tindakan ini bisa dikatakan sebagai jihad?[1].

 
Demonstrasi Pertama dalam Sejarah Islam
Kasus terbunuhnya Utsman bin Affan dan timbulnya pemikiran Khawarij sangat erat hubungannya dengan demonstrasi. Kronologis kisah terbunuhnya Utsman radliyallahu ‘anhu adalah berawal dari isyu-isyu tentang kejelekan khalifah Utsman yang disebarkan oleh Abdullah bin Saba’ di kalangan kaum muslimin.
Abdullah bin Saba’ adalah seorang Yahudi yang pura-pura masuk Islam[2]. Sedangkan kita telah maklum bagaimana karakter Yahudi itu karena Allah telah berfirman (artinya):


“Niscaya engkau akan dapati orang yang paling memusuhi (murka) kepada orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrikin.” (Al-Maidah: 82)


Permusuhan kaum Yahudi terlihat sejak berkembangnya Islam, seperti mengkhianati janji mereka terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, merendahkan kaum muslimin, mencerca ajaran Islam dan banyak lagi (makar-makar busuk mereka). Setelah Islam kuat, tersingkirlah mereka dari Madinah. (Lihat Sirah Ibnu Hisyam, jil. 3 hal 191,199)


Pada jaman Abu Bakar dan Umar radliyallahu ‘anhuma, suara orang-orang Yahudi nyaris hilang. Bahkan Umar mengusir mereka dari jazirah Arab sebagai realisasi perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pernah bersabda (artinya):


“Sungguh akan aku keluarkan orang-orang Yahudi dan Nashara dari Jazirah Arab sampai aku tidak sisakan padanya kecuali orang muslim.”
Juga ucapan beliau (artinya): “Keluarkanlah orang-orang musyrikin dari Jazirah Arab!” (HR. Bukhari)


Di tahun-tahun terakhir kekhalifahan Utsman radliyallahu ‘anhu, di saat kondisi masyarakat mulai heterogen, banyak mualaf dan orang awam yang tidak mendalam keimanannya, mulailah orang-orang Yahudi mengambil kesempatan untuk mengobarkan fitnah. Mereka berpenampilan sebagai muslim, dan di antara mereka adalah Abdullah bin Saba’ yang dijuluki Ibnu Sauda. Orang yang berasal dari San’a ini menebarkan benih-benih fitnah di kalangan kaum muslimin agar mereka iri dan benci kepada Utsman radliyallahu ‘anhu.

Sedangkan inti dari apa yang dia bawa adalah pemikiran-pemikiran pribadinya yang bernafaskan Yahudi. Contohnya adalah qiyasnya yang batil tentang kewalian Ali radliyallahu ‘anhu. Dia berkata (artinya): “Sesungguhnya telah ada seribu nabi dan setiap nabi mempunyai wali. Sedangkan Ali adalah walinya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Kemudian dia berkata lagi: “Muhammad adalah penutup para nabi sedangkan Ali adalah penutup para wali.”

Tatkala tertanam pemikiran ini dalam jiwa para pengikutnya, mulailah dia menerapkan tujuan pokoknya yaitu melakukan pemberontakan terhadap kekhalifahan Utsman bin Affan radliyaliahu ‘anhu. Maka dia melontarkan pernyataan pada masyarakat yang bunyinya (artinya): “Siapa yang lebih dhalim daripada orang yang tidak pantas mendapatkan wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (kewalian rasul), kemudian dia melampaui wali Rasulullah (yaitu Ali) dan merampas urusan umat (pemerintahan)!”Setelah itu dia berkata (artinya): “Sesungguhnya Utsman mengambil kewalian (pemerintahan) yang bukan haknya, sedang wali Rasulullah ini (Ali) ada (di kalangan kalian). Maka bangkitlah kalian dan bergeraklah. Mulailah untuk mencerca pejabat kalian, tampakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Niscaya manusia serentak mendukung dan ajaklah mereka kepada perkara ini.” (Tarikh Ar-Rasul’  juz 4 hal 340 karya Ath-Thabary melalui Mawaqif).


“Amar ma’ruf nahi mungkar” ala Ibnu Saba’iyah ini sama modelnya dengan “amar ma’ruf” menurut Khawarij yakni keluar dari pemerintahan dan memberontak, memperingatkan kesalahan aparat pemerintahan di atas mimbar-mimbar, forum-forum dan demonstrasi-demonstrasi yang semua ini mengakibatkan timbulnya fitnah. Masalah pun bukan semakin reda, bahkan tambah menyala-menyala. Fakta sejarah telah membuktikan hal ini. Amar ma’ruf nahi mungkar ala Ibnu Saba’iyah dan Khawarij ini mengakibatkan terbunuhnya Khalifah Utsman bin ‘Affan radliyallahu ‘anhu, peperangan sesama kaum muslimin dan terbukanya pintu fitnah dari jaman Khalifah ‘Utsman sampai jaman kekhalifahan ‘Ali bin AbiThalib radliyaliahu ‘anhu (Tahqiq Mawaqif Ash-Shahabati fil Fitnati min Riwayat Al-Imam Ath-Thabari wal Muhadditsin juz 2 hal 342).


Sebenarnya amar ma’ruf nahi mungkar yang mereka gembar-gemborkan hanyalah sebagai label dan tameng belaka. Buktinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Utsman (artinya):


“Hai ‘Utsman, nanti sepeninggalku Allah akan memakaikan pakaian padamu. Jika orang-orang ingin mencelakakanmu pada waktu malam —dalam riwayat lain—: Orang-orang munafiq ingin melepaskannya, maka jangan engkau lepaskan. Beliau mengucapkannya tiga kali.” (HR Ahmad dalam Musnadnya, juz 6 hal 75 dan At-Tirmidzi dalam Sunannya dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi 3/210 no. 2923).


Syaikh Muhammad Amhazurn berkomentar (artinya): “Hadits ini menunjukkan dengan jelas bahwa orang Khawarij tidaklah menuntutkeadilan dan kebenaran, akan tetapi mereka adalah kaum yang dihinggapi penyakit nifaq sehingga mereka bersembunyi di balik tabir syiar perdamaian dan amar ma’ruf nahi mungkar. Tidak diketahui di satu jaman pun adanya suatu jama’ah atau kelompok yang lebih berbahaya bagi agama Islam dan kaum muslimin daripada orang-orang munafiq.” (Tahqiq Mawaqif Ash-Shahabati juz 1 hal 476).


Inilah hakikat amar ma’ruf nahi mungkar kaum Ibnu Saba’iyyah dan Khawarij. Alangkah serupanya kejadian dulu dan sekarang?!


Di jaman ini ternyata ada Khawarij gaya baru, yaitu orang-orang yang mempunyai pemikiran khawarij. Mereka menjadikan demonstrasi, unjuk rasa dan sebagainya sebagai alat dan metode dakwah serta jihad. Di antara tokoh-tokoh mereka adalah Abdurahman Abdul Khaliq yang mengatakan (artinya): “Termasuk metode atau cara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdakwah adalah demonstrasi atau unjuk rasa.”


Sebelum kita membongkar kebatilan ucapan ini dan kesesatan manhaj Khawarij dalam beramar ma’ruf nahi mungkar kepada pemerintahan, marilah kita pelajari manhaj salafus shalih dalam perkara ini.

Manhaj Salafus Shalih Beramar Ma’ruf Nahi Mungkar kepada Pemerintah
Allah adalah Dzat yang Maha Adil. Dia akan memberikan kepada orang-orang yang beriman seorang pemimpin yang arif dan bijaksana. Sebaliknya dia akan menjadikan bagi rakyat yang durhaka seorang pemimpin yang dhalim. Maka jika terjadi pada suatu masyarakat seorang pemimpin yang dhalim, sesungguhnya kedhaliman tersebut dimulai dari rakyatnya. Meskipun demikian apabila rakyat dipimpin oleh seorang penguasa yang melakukan kemaksiatan dan penyelisihan (terhadap syari’at) yang tidak mengakibatkan ia kufur dan keluar dari Islam, maka tetap wajib bagi rakyat untuk menasihati dengan cara yang sesuai dengan syari’at. Bukan dengan ucapan yang kasar lalu dilontarkan di tempat-tempat umum, apalagi menyebarkan dan membuka aib pemerintah, yang semua ini dapat menimbulkan fitnah yang lebih besar lagi dari permasalahan yang mereka tuntut.


Adapun dasar memberikan nasehat kepada pemerintah dengan sembunyi-sembunyi adalah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (artinya):
‘Barangsiapa yang hendak menasehati pemerintah dengan suatu perkara; maka janganlah ia tampakkan di khalayak ramai. Akan tetapi hendaklah ia mengambil tangan penguasa (raja) dengan empat mata. Jika ia menerima, maka itu (yang dinginkan) dan kalau tidak, maka sungguh dia telah menyampaikan nasehat kepadanya. Dosa bagi dia dan pahala baginya (orang yang menasehati).”


Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Al-Haitsami dalam Al-Majma’ 5/229, Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah 2/522, Abu Nu’aim dalam Ma’rifatus Shahabah 2/121. Riwayat ini banyak yang mendukungnya sehingga hadits ini kedudukannya shahih, bukan hasan apalagi dlaif sebagaimana sebagian ulama mengatakannya. Demikian keterangan Syaikh Abdullah bin Barjas bin Nashir Ali Abdul Karim rahimahullah(lihat Muamalatul Hukam fi Dlauil Kitab was Sunnah hal. 54). Dan Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Dzilalul Jannah fit Takhriji Sunnah 2/521-522.


Hadits ini adalah pokok dasar dalam menasehati pemerintah. Orang yang menasehati jika sudah melaksanakan cara ini, maka dia telah berlepas diri (dari dosa) dan pertanggungan jawab. Demikian dijelaskan oleh Syaikh Abdullah bin Barjas rahimahullah.


Bertolak dari hadits yang agung ini, para ulama salaf berkata dan berbuat sesuai dengan kandungannya. Di antara mereka adalah Imam Asy-Syaukani yang berkata (artinya): “Bagi orang-orang yang hendak menasehati imam (pemimpin) dalam beberapa masalah —lantaran pemimpin itu telah berbuat salah—, seharusnya ia tidak menempatkan kata-kata yang jelek di depan khalayak ramai. Tetapi sebagaimana dalam hadits di atas, bahwa seorang tadi mengambil tangan imam dan berbicara empat mata dengannya, kemudian menasehatinya tanpa merendahkan penguasa Allah. Kami telah menyebutkan pada awal kitab As-Sair. Bahwasanya tidak boleh memberontak terhadap pemimpin walaupun kedhalimannya sampai puncak kedhaliman apapun, selama mereka menegakkan shalat dan tidak terlihat kekufuran yang nyata dari mereka. Hadits-hadits dalam masalah ini mutawatir. Akan tetapi wajib atas makmur (rakyat) mentaati imam (pemimpin) dalam ketaatan kepada Allah dan tidak mentaatinya dalam maksiat kepada Allah. Karena sesungguhnya tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (As-Sailul Jarar 4/556)
Imam Tirmidzi membawakan sanadnya sampai ke Ziyad bin Kusaib Al-Adawi. Beliau berkata (artinya): “Aku di samping Abu Bakrah, berada di bawah mimbar Ibnu Amir. Sementara itu Ibnu Amir tengah berkhutbah dengan mengenakan pakaian tipis”. Maka Abu Bilal[3] berkata, “Lihatlah pemimpin kita, dia memakai pakaian orang fasik.” Lantas Abu Bakrah berkata, “Diam kamu! Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Barangsiapa yang menghina (merendahkan) penguasa yang ditunjuk Allah di muka bumi, maka Allah akan menghinakannya.” (Sunan At-Tirmidzi no. 2224)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan tata cara menasehati seorang pemimpin sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Asy-Syaukani, sampai pada perkataannya (artinya): “….sesungguhnya menyelisihi pemimpin dalam perkara yang bukan prinsip dalam agama dengan terang-terangan dan mengingkari-nya di perkumpulan-perkumpulan masjid, selebaran-selebaran, tempat-tempat kajian dan sebagainya, itu semua sama sekali bukan tata cara menasehati. Oleh karena itu, jangan engkau tertipu dengan orang yang melakukannya, walaupun timbul dari niat yang baik. Hal itu menyelisihi cara salafus shalih yang harus diikuti. Semoga Allah memberi hidayah padamu.” (Maqasidul Islam hal. 395)


Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid, bahwasanya beliau ditanya (artinya): “Mengapa engkau tidak menghadap Utsman untuk menasehatinya?” Maka jawab beliau: “Apakah kalian berpendapat semua nasehatku kepadanya harus diperdengarkan kepada kalian? Demi Allah, sungguh aku telah menasehatinya hanya antara aku dan dia. Dan aku tidak ingin menjadi orang pertama yang membuka pintu (fitnah) ini.” (HR. Bukhari 6/330, 13/48 Fathul Bari; Muslim dalam Shahihnya 4/2290)
Syaikh Al-Albani mengomentari riwayat ini dengan ucapannya (artinya): “Yang beliau (Usamah bin Zaid) maksudkan adalah (tidak melakukannya – pent) terang-terangan di hadapan khalayak ramai dalam mengingkari pemerintah. Karena pengingkaran terang-terangan bisa berakibat yang sangat mengkhawatirkan. Sebagaimana pengingkaran secara terang-terangan kepada Utsman mengakibatkan kematian beliau[4].”


Demikian metode atau manhaj salaf dalam amar ma’ruf nahi mungkar kepada pemerintah atau orang yang mempunyai kekuasaan. Dengan demikian batallah manhaj Khawarij yang mengatakan bahwa demonstrasi termasuk cara untuk berdakwah, sebagaimana yang dianggap oleh Abdurrahman Abdul Khaliq.


Manhaj Khawarij ini menjadi salah satu sebab jeleknya sifat orang-orang khawarij. Sebagaimana dalam riwayat Said bin Jahm, beliau berkata (artinya): “Aku datang ke Abdullah bin Abu Aufa. beliau matanya buta, maka aku mengucapkan salam.” Beliau bertanya padaku: “Siapa engkau?” “Said bin Jahman”, jawabku. Beliau bertanya: “Kenapa ayahmu?” Aku katakan: “Al-Azariqah[5] telah membunuhnya.” Beliau berkata: “Semoga Allah melaknat Al-Azariqah, semoga Allah melaknat Al-Azariqah. Rasulullah shallallahu “alaihi wa sallam mengatakan bahwa mereka anjing-anjing neraka.” Aku bertanya: “(Yang dilaknat sebagai anjing-anjing neraka) Al-Azariqah saja atau Khawarij semuanya?” Beliau menjawab: “Ya, Khawarij semuanya.” Aku katakan: “Tetapi sesungguhnya pemerintah (telah) berbuat kedhaliman kepada rakyatnya.” Maka beliau mengambil tanganku dan memegangnya dengan sangat kuat, kemudian berkata: “Celaka engkau wahai Ibnu Jahman, wajib atasmu berpegang dengan sawadul a’dham, wajib atasmu untuk berpegang dengan sawadul a’dham. Jika kau ingin pemerintah mau mendengar nasehatmu, maka datangilah dan kabarkan apa yang engkau ketahui. Itu kalau dia menerima, kalau tidak, tinggalkan! Sesungguhnya engkau tidak lebih tahu darinya” (HR. Ahmad dalam musnadnya 4/383)


Dan masih banyak lagi hadits-hadits mengenai celaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang-orang Khawarij sebagai anjing-anjing neraka, karena perbuatan mereka sebagaimana telah dijelaskan.


Oleh karena itu, bagi seorang muslim yang masih mempunyai akal sehat, tidak mungkin dia akan rela dirinya terjatuh pada jurang kenistaan seperti yang digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (sebagai anjing-anjing neraka). Maka wajib bagi kita apabila hendak menasehati pemerintah, hendaklah dengan metode salaf yang jelas menghasilkan akibat yang lebih baik dan tidak menimbulkan bentrokan fisik antara rakyat (demonstran) dengan aparat pemerintah yang akhirnya membawa kerugian di kedua belah pihak atau munculnya tindak anarki.
Reply


Digg   Delicious   Reddit   Facebook   Twitter   StumbleUpon  


Users browsing this thread:
1 Guest(s)


  Theme © 2015