• 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
NAHI MUNKAR BUKAN HAK MUTLAK PENGUASA

#1
Sebaik-baik umat manusia adalah umat Nabi Muhammad ﷺ dan sebaik-baik generasi Islam adalah para sahabat, karena mereka mendapatkan tarbiyah langsung dari Rasulullah ﷺ. Dalam sebuah hadits, beliau bersabda,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik umat manusia (umat Islam) adalah pada masaku(masa sahabat) kemudian setelah mereka (masa tabi’in), kemudian setelah mereka(masa tabi’u at-tabi’in).” (HR.Bukhari no.2652, Muslim no.6635).

Syarat Menjadi Khoirunnas

Tidaklah para sahabat dikatakan sebagai sebaik-baik generasi hanya karena bertemu dengan Rasulullah ﷺ saja, melainkan disana ada amal lain yang menjadikan mereka menyandang predikat khairunnas (sebak-baik manusia); yaitu amar makruf nahi munkar.

Allah ﷻ berfirman,

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma´ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran:110).

Imam as-Syaukani berkata, “Sesungguhnya mereka dikatakan sebagai khairu al-ummah jika menegakkan amar makruf nahi munkar, manakala mereka meninggalkannya, hilanglah gelar tersebut dari mereka, oleh karena itu Mujahid berkata, “Sesungguhnya mereka mendapatkan predikat khairu al-ummah berdasarkan syarat-syarat yang tercantum dalam ayat di atas.” (As-Syaukani, Fathul Qadir,(Daru al-Fikr, Bairut, 1997, cet-3) vol.1, hlm.472).

Kedudukan Amar Makruf Nahi Munkar

Amar makruf adalah memerintahkan segala sesuatu yang diperintahkan oleh syari’at, sedangkan nahi munkar adalah mencegah segala sesuatu yang di larang oleh syariat. (Imam Abu Abdillah Muhamd Muflih al- Maqdisi, al- Adab asy- Syari’ah, (Muassasah ar-Risalah, bairut, 1996, cet-2) vol. 1, hlm. 179).

Menjadi sebuah pertanyaan, kenapa syarat seseorang menjadi khairu al-umah harus ada padanya sifat amar makruf nahi munkar ? Karena amar makruf nahi munkar merupakan amalan yang amat berat dan dibenci banyak orang, sedangkan balasan sesuai dengan kadar amal perbuatan, maka sangat pantas kalau Allah ﷻ memberi gelar tersebut untuk mereka yang menegakkan syariat ini.

Penyempitan Makna Nahi Mungkar

Banyak kalangan masyarakat yang dengan mudah menerima amar makruf, karena menyeru kepada kebaikan sejalan dengan fitrah manusia. Berbeda dengan nahi munkar yang justru sering mendapat penolakan. Penolakan sering muncul ari elaku kemunkaran itu sendiri.

Namun dewasa ini ada sebagian kelompok yang beranggapan bahwa tuntunan Nabi ﷺ ini, hanya dengan lisan dan hati saja, sedangkan nahi munkar menggunakan tangan atau kekuatan hanya berlaku bagi orang-orang tertentu yang memiliki kekuasan; yaitu para penguasa, bahkan tak jarang mereka menyebut kelompok yang melakukan nahi munkar dengan tangan atau kekuatan sebagai kelompok radikal, teroris, khawarij, bahkan yang terbaru, salah satu ormas Islam yang aktif mengamalkan syariat ini disebut sebagai Front Penghancur Islam. Wallahu musta’an.

Nahi Mungkar Hak Siapa ?

Apakah benar demikian, bahwa nahi munkar menggunakan kekuatan hanya berlaku bagi penguasa saja ? Hendaknya kita mengembalikan pertanyaan ini kepada Allah dan Rasul-Nya serta para ulama salaf.

Dalil dari Al-Qur’an

Allah ﷻ berfirman,

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang munkar dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS.Ali Imran: 104)

Ayat di atas menunjukkan bahwa hukum amar makruf nahi munkar adalah fardhu kifayah, inilah pendapat yang dishahihkan oleh Imam al-Qurtubi dalam al-Jamui’ li ahkami Al-Qur’an, Ibnu al-‘Arobi dalam Ahkamu Al-Qur’an, dan ini merupakan pendapat jumhur.

Dalam ayat ini tidak ada pengkhususan, bahwa amar makruf nahi munkar adalah kewenangan para penguasa saja, namun ayat ini bersifat mutlak kepada siapa saja walaupun ia bukan orang yang adil. Ibnu al-‘Arabi menjelaskan ketika menafsirkan (وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ), bahwa amar makruf nahi munkar merupakan kewajiban bagi seorang muslim untuk menegakkannya, walau ia bukan orang yang adil.” (Ibnu al-‘Arabi, Ahkamu Al-Qur’an, (Daru al-Hadits, Kairo, 2011) vol.1, hlm.399).

Imam Al-Faqih Muhammad bin Muflih al-Maqdisi berkata, “Mengingkari kemungkaran merupakan fardu kifayah, tidak tertuju kepada orang tertentu saja, namun sama saja apakah seorang imam, hakim, ‘alim, orang yang bodoh, adil atau fasik.” (Imam Abu Abdillah Muhamd Muflih al- Maqdisi, al- Adab asy- Syari’ah, (Muassasah ar-Risalah, bairut, 1996, cet-2) vol. 1, hlm. 184).

Imam an-Nawawi berkata, “Amar makruf nahi munkar tidak terbatas hanya bagi pemerintah, namun boleh bagi setiap muslim. Imam Haramain juga berkata, “Dalil atas hal itu adalah ijma’ kaum muslimin, karena kaum muslimin yang bukan penguasa pada zaman salaf hingga masa setelahnya mereka melakukan amar makruf nahi munkar. Dan mereka tidak pernah dicela karena melakukannya, padahal mereka bukan penguasa." (An-Nawwi, Shahih Muslim Bi Syarhi an-Nawawi ,(Daru al-Kutub al-Islamiyah, Bairut, 2000, cet-1) vol.2, hlm.21)

Imam al-Qurtubi berkata, “Kaum muslimin telah bersepakat sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abdil Bar bahwa merubah kemungkaran wajib atas setiap orang yang mampu untuk merubahnya.” (Al-Qurthubi, al-Jami’ Liahkami Al-Qur’an,(Daru Kutub al-Mishriyah, 1964, cet-2) vol.4, hlm. 48).

Dalil dari As-Sunnah

Dalam sebuah hadits Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa diantara kalian melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangan, jika tidak bisa maka rubahlah dengan lisan, jika tidak mampu maka rubahlah dengan hati.” (HR.Muslim no.186). Hadits ini menujukkan kewajiban bagi setiap orang untuk merubah kemungkaran dengan tangan dari beberapa sisi:

Pertama, sabda Rasulullah “Barangsiapa.” pada hadits ini merupakan bentuk kata umum, yang menunjukkan bahwa perintah dalam hadits tersebut ditujukan kepada siapa saja, tidak kepada kelompok tertentu.

Kedua, sabda beliau “Diantara kalian.” yang berkata dalam hadits ini adalah Nabi ﷺ, dalam kapasitasnya sebagai hakim dan yang diajak bicara adalah rakyat, kalau seandainya kewajiban mengingkari kemungkaran dengan tangan hanya wewenang hakim saja bagaimana mungkin beliau berbicara tentang itu kepada masyarakat biasa.

Ketiga, sabda beliau “Jika tidak mampu.” ini menunjukkan bahwa mukhotob (lawan bicara) dalam perintah pertama sama dengan pada perintah kedua yang juga menjadi mukhotob pada perintah ketiga. Ketiga perintah ini ditujukan kepada seseorang. Jika ia tidak mampu mengubah dengan tangan, hendaklah mengubah dengan lisan, jika tidak mampu hendaklah ia melakukan perintah ketiga; merubah kemungkaran dengan hatinya.

Keempat, seandainya merubah kemungkaran dengan tangan hanya terbatas kepada penguasa, kenapa beliau mengatakan, “Jika tidak mampu.” Padahal pada dasarnya seorang hakim mampu untuk merubah dengan tangan. Inilah beberapa penjelasan yang disampaikan oleh DR. Abdul Akhir Al-Gunaimi dalam kitab Hukmu Taghyir bil Yad li Ahaadi Ro’iyyah, bahwa hadits ini menunjukkan makna umum bagi setiap muslim tidak terbatas kepada orang tertentu.

Ibnu Daqiq al-‘Id menjelaskan, sabda Nabi ﷺ, “Maka rubahlah kemungkaran.” merupakan perintah wajib berdasarkan kesepakatan umat dan Al-Qur’an serta As-Sunah. (Ibnu Daqiq al-Id, Syarhu al-Arbain an-Nawawi,(Muassasah ar-Rayan, Bairut, 2003, cet-6) hlm.112). Beliau juga menegaskan kembali pada halaman berikutnya, para ulama berkata, “Amar makruf nahi munkar bukan tugas yang dikhususkan bagi para penguasa akan tetapi kewajiban bagi setiap muslim.

Dalam hadits yang lain, “Seorang wanita Yahudi mencela Nabi ﷺ, maka seorang sahabat mencekik perempuan tersebut sampai mati, namun Rasulullah tidak mengharuskan denda atas darah perempuan tersebut.” (HR.Abu Daud no.4364, al-Baihaqi no.13758). Hadits ini dishahikan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Irwa’u al-Ghalil. (al-Albani, Irwa’u al-Ghalil,(al-Maktab al-Islami, Bairut, 1985, cet-2) vol.5, hlm.91).

Mereka yang mengatakan amar makruf nahi munkar hanya hak penguasa saja, maka mereka telah menyelisihi hadits-hadits shahih, karena tidak ada hadits yang membatasi bahwa syariat ini adalah wewenang penguasa saja. Mereka juga telah menyelisihi apa yang telah disampaikan dan dilakukan oleh para salaf, karena mereka melakukan nahi munkar dengan tangan mereka padahal mereka bukanlah penguasa pada saat itu.

Ibnu Katsir mengatakan, _“Pada pagi hari jum’at, Ibnu Taimiyah dan para muridnya berkeliling ke tempat-tempat penjualan khamr, merekapun memecahkan bejana-benjana dan wadah khamr, munumpahkan khamr dan mereka menta’zir pemilik-pemilik kedai yang melakukan perbuatan keji tersebut, maka orang-orang pun merasa senang dengan hal itu. (Ibnu Katsir, al-Bidayah wa an-Nihayah, (Maktabah al-Ma’arif, Bairut, 1997, cet-2 ) vol.14, hlm.11).

Abu Daud berkata, “Saya mendengar Imam Ahmad ditanya tentang laki-laki yang melewati sekelompok orang yang sedang bermain catur, maka laki- laki tersebut melarang mereka namun mereka tidak juga berhenti bermain, maka laki- laki itu mengambil catur tersebut dan membuangnya. Maka Ahmad berkata, “Sungguh ia telah berbuat baik.” (Imam Abu Abdillah Muhamd Muflih al- Maqdisi, al- Adab asy- Syari’ah,(Muassasah ar-Risalah, bairut, 1996, cet-2) vol. 1, hlm. 189).

Apa yang dilakukan oleh Ibnu Taimiyah dan para murid beliau serta laki-laki yang membuang catur dalam kisah diatas merupakan bukti konkrit bahwa para ulama membolehkan pengingkaran kemungkaran dengan tangan bagi selain penguasa, dan masih banyak contoh lain dari para ulama dalam masalah ini.

Rambu-Rambu Merubah Kemungkaran

Setelah kita mengetahui bahwa para ulama salaf tidak membatasi amar makruf nahi munkar menggunakan tangan atau kekuatan bagi penguasa saja, maka hendaklah seseorang yang ingin melakukan syariat yang mulia ini mengetahui kaidah-kaidah pelaksanaannya, agar tidak terjadi tindakan sewenang-wenang. Diantara kaidah-kaidah tersebut adalah:

1. Kemungkaran tersebut terjadi pada saat itu, yaitu ketika pelaku tertangkap basah. Tidak boleh mengingkari kemungkaran yang belum terjadi dan yang sudah terjadi.

2. Kemungkaran tersebut harus tampak di depan mata, tidak boleh mengingkari kemungkaran dengan memata-matai pelaku.

3. Harus melalui tahapan-tahapan mencegah kemungkaran yang telah disebutkan oleh para ulama; yaitu memberi tahu pelaku, bahwa yang dilakukannya adalah suatu kemungkaran, menasehati dengan lembut, dengan mencela, dengan perkataan yang kasar, kemudian baru dengan menggunakan tangan.

4. Mengingkari kemungkaran sesuai kadar kemungkaran itu sendiri dan tidak melampaui batas. Artinya jika pelaku bisa dingatkan dengan nasehat, maka cukuplah dengan nasehat, tidak perlu memukulnya.

5. Tidak menimbulkan kemungkaran yang lebih besar.

6. Tidak boleh mengingkari orang awam, kecuali pada perkara-perkara yang sudah jelas, seperti meninggalkan shalat, minum khamer atau perbuatan yang sudah maklum di tengah masyarakat bahwa hal tersebut merupakan kemungkaran.

Nikmat terbesar dalam hidup kita tentu nikmat iman dan Islam, satu level di bawahnya; yang tak kalah pentingnya adalah karunia shihhatu at-tashowwur (pemahaman yang benar). Tidak sedikit orang berilmu di negeri ini, namun sangat langka mereka yang berilmu sekaligus lurus pemahamannya. Wallahu a’lam.

 
 
Reply


Digg   Delicious   Reddit   Facebook   Twitter   StumbleUpon  


Users browsing this thread:
1 Guest(s)


  Theme © 2015