• 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Kisah Mujahidin Tua yang Pincang Kakinya

#1
Dalam sebuah riwayat diceritakan kisah seorang sahabat tua yang rambutnya rata dengan uban, fisiknya sudah mulai lemah, sebelah kakinya tidak normal lagi hingga membuat jalannya terpincang-pincang.
 
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumumkan mobilisasi jihad/perang, lelaki tua itu datang menghadap beliau seraya mendaftarkan dirinya menjadi anggota pasukan kaum muslimin.
 
 
Beberapa sahabat muda yang saat itu berada disekitar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kagetnya bukan kepalang menyaksikan tekad sahabat tua tersebut.
 
Dibenak mereka terpampang anggapan keganjilan, kelucuan dan sekaligus keharuan. 
 
Ganjil dan lucu, oleh karena apakah yang bisa disumbangkan seorang yang lemah dan cacat dalam sebuah peperangan yang dahsyat dan menuntut kondisi yang prima.
 
Haru, karena semangat orangtua itu untuk mengabdikan dirinya di jalan Allah. 
 
 
Akhirnya para sahabat muda itu menganjurkan supaya lelaki tua itu membatalkan saja niatnya ikut pasukan muslimin.
 
Sebab jumlah kaum muslimin yang muda, gagah dan sehat masih cukup banyak untuk menghadapi pasukan kafir.
 
 
Dengan muka merah menahan marah, lelaki tua itu menjawab :
 
 
“Apakah syahid dan syurga hanya hak orang-orang muda saja?
 
Tidak berhakkah orangtua seperti aku ini ikut berjihad, lalu mati syahid?”
 
 
Mendengar tekad bulat dan keikhlasan sahabat tua itu, akhirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkannya bergabung dalam pasukan kaum muslimin.
 
Sambil tersenyum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bergumam :
 
“Bila apa yang diucapkannya itu benar, kelak Allah akan memenuhi keinginannya”.
 
 
Singkat cerita, ketika perang usai, terbuktilah kemudian ucapan Rasulullah.
 
Sahabat itu termasuk mereka yang gugur sebagai syuhada.
 
 Terpenuhilah sudah keinginan laki-laki itu mati di medan Jihad.
 
 
Dan seperti disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang yang mati syahid itu mempunyai hak memberi syafaat [kebaikan, pertolongan] di hari akhirat. Atas kebenaran imannya dan ganjaran sebagai syuhada, Allah Ta’ala mempersilahkan sahabat tua memohonkan sesuatu sebagai ganjaran mati syahid.
 
Spontan ia berkata :
“Ya Allah, aku tidak mengharapkan banyak sebagai balasan kesyahidanku. aku hanya akan minta kepada-Mu, supaya Engkau menghidupkanku kembali ke atas dunia, kemudian aku pergi berjihad, lalu aku gugur lagi sebagai syuhada.”
 
 
Allah Ta’ala menjawab :
“Permintaan itu tidak mungkin Aku kabulkan, sebab bertentangan dengan ketetapan [Sunnah] KU”.
 
 
Begitulah seharusnya manifestasi syahadah yang benar, lurus dan tulus.
 
Tidak ada kebahagiaan dan kenikmatan, kecuali senantiasa berada dalam ridho Allah.
 
Tidak ada perbuatan dan tindakan, kecuali selalu dalam garis edar jihad Fi Sabilillah.
 
Tidak ada amalan, melainkan tetap berporos dan berpegang teguh pada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
 
Reply


Digg   Delicious   Reddit   Facebook   Twitter   StumbleUpon  


Users browsing this thread:
1 Guest(s)


  Theme © 2015