• 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Hijrah dari Kampung yang Banyak Maksiat

#1
Allâh Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
 
يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ أَرْضِي وَاسِعَةٌ فَإِيَّايَ فَاعْبُدُونِ
 
”Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku saja.”
 [QS. Al-Ankabuut : 56].
 
 
إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الأرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
 
”Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?". Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?". Orang-orang itu tempatnya neraka Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali”
[QS. An-Nisaa’ : 97].
 
 
Al-Hafidh Ibnu Katsir  rahimahullah berkata :
 
”Ayat yang mulia ini turun mencakup untuk setiap orang yang tinggal di tengah-tengah orang-orang musyrik sedangkan ia mampu hijrah dan dia tidak mampu untuk menegakkan agama, maka sesungguhnya dia mendhalimi dirinya dan melakukan keharaman dengan ijma’ ulama dan berdasarkan ketegasan ayat ini”.
[Tafsir Al-Qur’anil-‘Adhiim 1/542]
 
Imam Ibnu Qudamah  rahimahullah berkata :
”Ini adalah ancaman yang sangat keras, yang menunjukkan wajib, sebab menegakkan kewajiban agama hukumnya wajib bagi yang mampu, sedangkan tidak mungkin hal itu terpenuhi kecuali dengan hijrah, maka hijrahnya jadi ikut wajib”.
[Al-Mughni 8/457]
 
 
Imam Al-Qurthubi dalam Tafsirnya 5/346, berkata :
 
”Dalam ayat ini terdapat dalil tentang hijrah dari kampung yang banyak maksiat di dalamnya."
 
Sa’id bin Jubair berkata : ”Apabila banyak kemaksiatan di suatu kampung, maka keluarlah dari kampung itu, beliau seraya membaca ayat di atas”.
[Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam Tafsirnya 2/174/1]
 
 
Hijrah secara bahasa artinya meninggalkan, berpisah, atau menjauhi.
[Lisaanul-‘Arab oleh Ibnul-Mandhur 51/4617, An-Nihaayah oleh Ibnul-Atsir 5/224]
 
firman Allah tentang Nabi Ibrahim :
 
إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَى رَبِّي
 
”Sesungguhnya aku akan berpindah ke Rabb-ku”
[QS. Al-Ankabut : 26].
 
Adapun maksudnya di sini adalah berpindah dari negeri kafir menuju negeri Islam, seperti kalau ada seorang muslim tinggal di Amerika dan dia tidak mampu menampakkan agamanya di sana, lalu dia pindah ke negeri Islam. Maka ini disebut hijrah.
 
Negara kafir yaitu negara yang nampak syi’ar-syi’ar kekufuran (seperti perayaan Natal bersama, perayaan Waisak budha, Nyepi Hindu, bank Riba, perdagangan resmi Mira's dan kemungkaran lainnya) dan tidak nampak di sana syi’ar-syi’ar Islam seperti adzan, shalat jama’ah, shalat Jum’at, ’Ied, pelaksanaan hukum Had (hudud), razam untuk pezina, qishosh dan sebagainya secara merata.
 
Adapun negara Islam adalah negara yang nampak di sana syi’ar-syi’ar Islam secara merata.[lihat Tafsir Al-Manar  10/316 dan Badaa’i Shanaa’i 7/102.]
 
 
Al-Hafidh Ibnu Hajar  rahimahullah berkata,
 
”Hijrah bermakna meninggalkan, dan dalam syara’ adalah meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.
 
 
Hijrah dalam Islam itu ada dua :
 
Pertama : Berpindah dari kampung yang tidak aman menuju kampung yang aman, seperti dalam hijrah ke Habasyah atau awal hijrah dari Makkah ke Madinah.
 
Kedua : Berpindah dari negeri kafir menuju negeri Iman.
 
Hal ini setelah Nabi shallallahu'alaihi wa sallam menetap di Madinah dan kaum muslimin yang mampu telah berhijrah ke sana.
 
Waktu itu, hijrah hanya khusus ke Madinah sampai kota Makkah ditaklukkan maka kekhususan itu tidak berarti lagi, sehingga hijrah menjadi umum dari setiap negeri kafir bagi yang mampu”.
Reply


Digg   Delicious   Reddit   Facebook   Twitter   StumbleUpon  


Users browsing this thread:
1 Guest(s)


  Theme © 2015