• 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Firqotun Najiyah

#1
[Image: firqotun-najiyah.jpg]



Kelompok Firqah Najiyah (golongan yang selamat) itu bukan hanya sekedar pengakuan, tanpa ada pembuktiaan. Akan tetapi Firqah Najiyah itu memiliki ciri-ciri dan karakteristik. Maka dalam artikel ini akan dijelaskan sifat dan karakteristik Firqah Najiyah ini.

الرَّابِعَةُ وَالثَّلَاثُوْنَ : أَنَّ كُلَّ فِرْقَةٍ تَدَعَّى أَنَّهَا النَّاجِيَةُ فَأَكْذَبَهُمُ اللهُ بِقَوْلِهِ : هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ ثُمَّ بَيَّنَ الصَّوَابَ بِقَوْلِهِ : بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ

Ketigapuluh Empat: “Setiap kelompok (sesat) mengklaim diri sebagai firqotun najiyah (kelompok yang selamat). Lalu Allah menyingkap kebohongan mereka dengan firman-Nya,

هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar.” (Al-Baqarah: 111)

Kemudian Allah Subhanahu wa ta'ala menjelaskan yang selamat,

بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Rabbnya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Al-Baqarah: 112)

Pada matan yang ke-34 ini, Syaikh menambahkan sifat jahiliyah yang hampir ada pada seluruh sekte jahiliyah, yaitu, ‘mengklaim kebenaran hanya ada pada dirinya, dan klaim bahwa kelompoknya saja yang "najiyah" (selamat).’

Sebagai contoh, jahiliyah Yahudi dan Nasrani, mereka membatasi kebenaran hanya ada pada kelompok mereka. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta'ala,

وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani.” (Al-Baqarah: 111)

“Mereka, membatasi hidayah hanya ada pada kelompoknya. Pun mereka membatasi orang yang masuk surga hanya dari agama mereka saja.” jelas Syaikh Shaleh al-Fauzan.[1]

Klaim Yang Tidak Berbukti

Sebuah klaim atau pengakuan haruslah berdasarkan bukti. Inilah yang diajarkan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala dalam al-Qur’an. Maka, orang-orang Yahudi dan Nasrani yang mengklaim sebagai Firqoh Najiyah (golongan yang selamat) dituntut pembuktiannya. Dan mereka pun tidak mampu membuktikan kebenaran klaimnya.

Di ayat berikutnya, Allah menjelaskan bahwa kelompok yang selamat memiliki dua ciri asasi. Dua-duanya harus ada pada golongan yang menghendaki keselamatan dunia dan akherat. Yaitu;

1. Ikhlas dalam beribadah,
2. Beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta'ala dengan syari’at Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam, Bukan syari’at kreasi manusia.

Kedua syarat muthlak ini tercantum dalam surat al-Baqarah di atas (ayat 112) dan al-Kahfi ayat terakhir.

Kedua syarat ini tidak ada pada Yahudi, Nasrani, maupun jahiliyah lainnya. Dua syarat ini merupakan pokok ajaran Islam. Hal ini sebagaimana disimpulkan oleh Ibnu Taimiyyah,

جِمَاعُ الدِّينِ ” أَصْلَانِ ” أَلَّا نَعْبُدَ إلَّا اللَّهَ وَلَا نَعْبُدَهُ إلَّا بِمَا شَرَعَ لَا نَعْبُدُهُ بِالْبِدَعِ

“Pokok ad-Din (Islam) ada dua; 1. Beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wata'ala, dan 2. Beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta'ala dengan syari’at-Nya, tidak dengan kebid’ahan."[2]

Siapa Firqotun Najiyah ?

Menurut Syaikh Muhammad Khalil al-Harras dalam Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah, hlm. 14), istilah Firqotun Najiyah disimpulkan dari dua hadits.

Hadits pertama berbunyi,

“Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang unggul di atas kebenaran (ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ). Musuh mereka tidak akan mampu menimpakan bahaya (apapun) terhadap kelompok ini. Mereka senantiasa eksis seperti ini, hingga kiamat.” (HR. Muslim)

Hadits kedua,

“Dan umatku akan terpecah mejadi 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu kelompok saja.’ Seorang sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah (kelompok yang selamat itu.) ?’ Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam menjawab, ‘Yaitu mereka yang keadaannya seperti aku dan para sahabatku (مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ).” (HR. Tirmidzi)

Dua hadits di atas menyebutkan bahwa ada sekelompok (firqoh) dari ummat Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam yang selamat (najiyah). Dari sini lahir istilah yang sangat populer, Firqotun Najiyah.

Ada dua sifat firqotun najiyah dalam hadits di atas, yaitu, 'alal haq (di atas kebenaran) dan mitslu má ana ‘alaihi wa Ash-hábi (meneladani Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya).

Komitmen Dengan Kebenaran

Mempelajari dan iltizam dengan kebenaran, lalu tegar memperjuangkannya adalah ciri khas firqotun najiyah. Dalam hadits di atas Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mensifati mereka dengan 'alal haq.

Menantu Beliau Shallallahu 'alaihi wasallam, Ali bin Abi Thalib berpendapat, firqotun najiyah adalah manusia yang melazimi al-Haq, dan merekalah yang dimaksud oleh Allah Subhanahu wata'ala dalam firman-Nya,

وَمِمَّنْ خَلَقْنَا أُمَّةٌ يَهْدُونَ بِالْحَقِّ وَبِهِ يَعْدِلُونَ

“Dan di antara orang-orang yang Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan.” (Al-A’raf: 181).[3]

Dalam beriltizam dengan kebenaran, Imam Ahmad adalah contoh ideal dalam masalah ini. Beliau hidup pada era al-Makmum, al-Mu’tashim, al-Watsiq, pada tiga masa kekhilafahan ini beliau diuji dengan berbagai macam ujian yang maha berat. Yang terberat adalah beliau dipaksa oleh tiga khalifah ini untuk mengatakan al-Qur’an merupakan makhluk, bukan Kalamullah.

Selama al-Mu’tashim menjabat sebagai khalifah, beliau dipenjara dan disiksa dengan siksaan yang mengerikan. Pernah beliau dicambuk ditengah terik matahari, saat itu beliau dalam keadaan puasa. Dicambuk hingga tak sadarkan diri. Pada saat al-Watsiq berkuasa, beliau menjadi DPO, bersembunyi dari satu tempat ke tempat lainnya. Beliau diancam bunuh oleh Khalifah al-Watsiq.

Ujian ini berakhir saat al-Mutawakkil naik menjadi khalifah, menggantikan al-Watsiq. Beliau rahimahullah tauladan yang baik bagi firqotun najiyah.

Meneladani Generasi Salaf

Untuk meraih sifat ‘alal haq, firqotun najiyah harus beruswah kepada generasi salafus shaleh, yaitu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, sahabat, tabi’in dan tabi’uttabi’in.

Kenapa demikian ?
Karena kebenaran dalam beragama hanya bisa ditempuh dengan mencontohi generasi salaf. Baik dari sisi akidah, ibadah maupun akhlak. Banyak nash syar’i menjelaskan bahwa generasi salaf adalah generasi terbaik, diridhoi oleh Allah dan dijamin terhindar dari kesesatan. Bahkan dalam surat at-Taubah ayat 100, dengan gamblang Allah memberi jaminan keselamatan (najiyah) bagi siapa saja yang mengikuti para sahabat.

Sedangkan dalam surat An-Nisa’ ayat 115, Allah Subhanahu wata'ala menjelaskan dua dosa besar, yaitu; menentang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam setelah mengetahui kebenaran risalahnya Shallallahu 'alaihi wasallam, dan menyimpang dari jalan orang-orang beriman (para sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam). Dua dosa ini berkonsekwensi dua adzab; di dunia ia dibiarkan dalam kesesatan dan di akherat dilemparkan ke dalam neraka jahannam.[4]

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Jagahlah aku (syari’atku) lewat para sahabatku, kemudian lewat generasi setelahnya, kemudian lewat generasi setelahnya. Lalu kedustaan akan merajalela.” [HR. Ibnu Majah]

Walhasil, firqotun najiyah tidak cukup dengan sekedar klaim namun harus berbukti. Pun firqotun najiyah tidak bisa dimonopoli oleh pihak tertentu, karena ia bukan nama bagi kelompok pengajian, atau jamaah (pengikut syaikh tertentu). Namun, ia adalah manhaj robbani, memiliki kriteria yang telah ditentukan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala dan Rasul-Nya. Siapapun orangnya, dari kelompok manapun asalnya, kapanpun masa hidupnya, bisa saja termasuk firqotun najiyah, dengan syarat manhajnya dalam akidah, akhlak, ibadah, lebih-lebih dalam iqomatuddin harus sesuai manhaj salaf shaleh. Wallahu’A’alam.



Sumber :
Majalah An-Najah Edisi 80

Footnote:

[1] Syarh Masa’il Jahiliyah, hlm. 98.
[2] Majmu’, 10/234.
[3] al-Audah, Shifatul Ghuraba’ al-Firqoh an-Najiyah, hlm. 74.
[4] Abu Basheer, Shifatut Thaifah Mansuroh, hlm. 9-13.


 
Reply


Digg   Delicious   Reddit   Facebook   Twitter   StumbleUpon  


Users browsing this thread:
1 Guest(s)


  Theme © 2015