• 1 Vote(s) - 5 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
FAKTA; Kejadian Memalukan di Balik Operasi Penangkapan 1 Ton Sabu di Anyer !

#1
 [Image: 7a63beebe14c2c2d4f0a54f827f92d20_630x420....jpg?w=630]

Pekan lalu, publik Indonesia dikejutkan dengan adanya berita penangkapan 1 ton sabu di Anyer.


Kapolda Metro Jaya Irjen Pol M Iriawan mengungkapkan bahwa anggotanya sudah melakukan pengintaian sebelum dilakukan penggerebekan penyelundupan sabu seberat satu ton asal taiwan di Hotel Mandalika, Anyer, Kabupaten Serang.

“Ini pengembangan dari Jakarta, sudah kita ikuti dua bulan yang lalu. Jadi, anggota saya sudah ada disini dua bulan yang lalu,” kata Iriawan kepada wartawan di lokasi, Kamis (13/7/2017).

Ia menjelaskan, sabu berasal dari luar dibawa menggunakan jalur laut. Dari tengah laut, dibawa menggunakan perahu karet dengan mesin halus. Para pelaku sudah menunggu di hotel Malandika menggunakan dua unit mobil minibus untuk membawa sabu.

Kapolda menyebutkan, tiga orang pelaku berhasil diamankan, sementata satu pelaku berhasil melarikan diri dan masih dalam pengejaran petugas. Keempat pelaku merupakan warga negara Taiwan.

“Satu terpaksa kita lakukan tindakkan tegas karena melawan, itu bandarnya. Dua petugas kita juga mengalami luka karena ditabrak pelaku,” ujarnya.

Selanjutnya, pihaknya akan melakukan pengenbangan dengan memeriksa tersangka, saksi dilokasi dan pemilik hotel Mandalika.

“Tentunya kita akan melakukan pengembangan. Yang jelas ini hasil kerja keras kita dan berterimakasih dengan Polda Banten,” pungkasnya. Lalu menurut rencana Tim Anyer yang terdiri dari Polres Depok, Satgas Merah Putih dan Polda Metro Jaya akan menerima penghargaan dari Kapolri Jenderal Tito Karnavian di Mabes Polri.

Pada kesempatan yang sama, besok Kapolri juga akan memberikan penghargaan kepada Tim dari Direktorat Narkoba Bareskrim Polri yang berhasil menangkap bandar narkoba dengan barang bukti 1,8 ton ganja di Pidie, Nangroe Aceh Darussalam, 16 orang anggota dari Direktorat Narkoba berhasil mengamankan 1,8 ton ganja pada hari Jumat 14 Juli 2017.
Ke-16 orang inilah yang akan mendapatkan penghargaan dari Kapolri.
 
Tapi ada sebuah skandal besar yang perlu diungkap kepada rakyat Indonesia agar semua pihak bisa mengetahui bahwa telah terjadi tindakan kesewang-wenangan dan kesengajaan melakukan tugas diluar kewenangannya, Apakah yang sebenarnya terjadi?

Yang terjadi sebenarnya adalah tidak benar Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya telah 2 bulan memantau rencana masuknya 1 ton sabu ke Anyer.

Inilah fakta yang sebenarnya,

Sekitar 2 bulan lalu, Kapolres Depok Kombes Herry Heriawan (yang saat ini menjadi tangan kanan Kapolri Jenderal Tito Karnavian) dikirim ke Taiwan untuk membahas kerjasama di bidang pemberantasan perjudian.

Dalam pertemuan itu, Pemerintah Taiwan, dalam hal ini Kepolisian Negara Taiwan, ingin memberikan kepada Direktorat Narkoba Kepolisian Indonesia data yang sangat rahasia “top secret” mengenai rencana masuknya 1 ton sabu dari bandar narkoba di Taiwan ke Wilayah Anyer, Banten.

Karena isi dari dokumen itu sangat rahasia, maka Kepolisian Negara Taiwan memberikan secara tertulis. Semua data yang diberikan itu lengkap dan sempurna.

Seluruh data diri para bandar dan anggotanya yang akan berangkat ke Anyer, nama, nomor telepon, naik kapal apa, rutenya apa, semua data dan informasi yang diberikan benar-benar lengkap. Tapi apakah yang terjadi?

Kapolres Depok Kombes Herry Heriawan mensabotase informasi dan dokumen yang diberikan Kepolisian Negara Taiwan.
Atas sepengetahuan Kapolri, informasi itu samasekali tidak diberikan Kombes Herry Heriawan kepada pihak lain. Jadi, hanya Polres Depok dan Satgas Merah Putih bentukan Kapolri yang diajak dalam operasi penangkapan di bulan Juli 2017.
(Sekali lagi diulangi bahwa Kepolisian Negara Taiwan sudah menginformasikan 2 bulan sebelumya bahwa pada bulan Juli 2017 akan ada 1 ton sabu yang akan masuk ke Anyer).

Ternyata pada Juni 2017, Direktorat IV Bareskrim Polri mendapat info penting dari lapas lapas dan jaringan narkoba yang dipantau Bareskrim. Informasi itu adalah para bandar dan jaringan narkoba di Indonesia sudah “bisik-bisik” bahwa dalam waktu dekat akan datang dari Taiwan 1 ton sabu ke Indonesia melalui Pelabuhan di Anyer.

Direktorat IV Narkoba Bareskrim lantas menindak-lanjuti informasi yang mereka dapat dari lapangan tentang rencana masuknya 1 ton sabu dari Taiwan ke Anyer. Direktorat IV Narkoba Bareskrim lantas membentuk tim gabungan dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Dirjen Bea Cukai.

Dan setibanya di Banten Tim gabungan inipun mengontak Direktorat Narkoba Polda Banten untuk “kulonuwun” bahwa tim gabungan memasuki wilayah hukum Polda Banten.

Berhari-hari tim gabungan ini beredar di Anyer, mereka lacak kapal-kapal barang apa saja yang selama ini biasa masuk ke Anyer dari Taiwan dan China. Sebab logika mereka, kalau barang yang mau masuk 1 ton sabu, tentu membutuhkan kapal yang besar, Mereka tunggui dermaga demi dermaga, dalam senyap, tim gabungan ini bekerja tanpa kenal lelah.

Tapi pada suatu hari yaitu pada tanggal 15 Juni 2017, tim gabungan tadi amprokan atau bertemu hadap-hadapan muka dengan Satgas Merah Putih yang isinya didominasi anggota Polres Depok. Satgas ini langaung menghindar dan kabur karena tak mau didekati tim gabungan dari Bareskrim, BNN, Bea Cukai dan Polda Banten.

Direktorat IV Narkoba Bareskrim tahu bahwa tim yang kabur dan yang tak mau didekati itu adalah tim Polres Depok.
Maka tanggal 15 Juni 2017, perwakilan Direktorat IV Narkoba Bareskrim mengontak Kapolres Depok Kombes Herry Heriawan yang di kalangan polisi dipanggil Herryman. Polres Depok dan Satgas Merah Putih diajak bekerjasama mengenai rencana kedatangan 1 ton sabu dengan tim gabungan yang sudah berminggu-minggu “stand by” dan siaga di Anyer.

Kapolres Depok Kombes Herry Heriawan menjawab: “Nanti saya laporkan dulu ke atasan”.

Tapi tunggu punya tunggu, Kapolres Depok tak kunjung mau bekerjasama, Pihak Direktorat IV Narkoba Bareskrim lantas mengontak Direktur Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Nico Afinta. (Sekedar informasi, saat ini yang menjadi Direktur Narkoba Bareskrim dan Wakil Direktur Narkoba Bareskrim, keduanya adalah Mantan Direktur Narkoba Polda Metro Jaya).

Kombes Niko diingatkan dan dinasehati bahwa Anyer masuk wilayah hukum Polda Banten. Sehingga mau tak mau yang harus menangani kasus ini adalah Polda Banten dan tentu bekerjasama dengan Direktorat Narkoba Bareskrim, BNN dan Bea Cukai. Tapi tampaknya komplotan Satgas Merah Putih dan Polres Depok sudah lupa diri karena sang Kapolres merasa jadi “tangan kanan” Kapolri. Hingga akhirnya kita semua menyaksikan sidak dan press release yang dilakukan Kapolda Metro Jaya Irjen Muhammad Iriawan didampingi Kapolres Depok Kombes Herry Heriawan. 
 
Yang bisa saya katakan disini adalah mematut dirilah kalian didepan cermin, wahai Polres Depok dan Satgas Merah Putih.
Alanglah nistanya kelakuan kalian. Kalian klaim bahwa operasi penangkapan 1 ton sabu itu adalah hasil kerja kalian.
Bohong banget!

Kalian bohong!

Yang bekerja dari awal hingga akhir adalah Kepolisian Negara Taiwan, bahkan tim lengkap Kepolisian Negara Taiwanlah yang mengikuti kapal ini dari perairan Taiwan sampai mendarat di Anyer. Mereka ada di belakang kapal ini tanpa sepengetahuan para bandar yang ada di kapal pesiar berisi 1 ton sabu, sampai ke perairan Indonesia, kapal yang membawa 1 ton sabu ini dikepung dan di ikuti secara rahasia oleh jajaran kepolisian Taiwan.

Persis setelah mendarat di perairan Anyer, kepolisian Taiwan menyerahkan proses penangkapan kepada pihak kepolisian Indonesia, dan di lapangan, tidak ada tim dari Direktorat Polda Metro Jaya. sejak Juni, tim gabungan yang ada di Anyer Banten adalah tim dari Direktorat IV Bareskrim, BNN, Bea Cukai dan Polda Banten.

Satgas Merah Putih, Polres Depok dan Polda Metro Jaya main kucing-kucingan dan main rahasia-rahasiaan saat memantau lokasi akan mendaratnya kapal ini.

Lalu Polwan bernama Ocha.

Anda sekarang dielu-elukan seolah anda polwan narkoba terhebat yang sudah bekerja keras memantau dengan cara tiarap di rerumputan.

Malulah Mbak, sama senior-senior dan pimpinan di Bareskrim dan BNN, mereka tahu anda tidak ada di lapangan dalam kurun waktu yang lama. Menjelang mendaratnya kapal ini sesuai informasi dari Kepolisian Negara Taiwan, barulah anda adegan acting tiarap seolah-olah sudah sangat lama memantau kapal narkoba mau datang.

Hei Satgas Merah Putih, termasuk kalian Polres Depok dan Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya, yang bekerja keras itu BUKAN KALIAN, yang bekerja keras itu adalah Kepolisian Negara Taiwan.

Mereka kawal dan mereka kuntit kapal ini dari Taiwan sampai ke Anyer, untuk mensukseskan penangkapanya, sejak 2 bulan lalu dokumen tentang jaringan yang membawa 1 ton sabu ini diserahkan ke Kapolres Depok. Tapi informasi itu tidak diserahkan ke Direktorat Narkoba Bareskrim, alias di embat sendiri oleh Kapolres Depok dan komplotan Tito Karnavian.

Ada sistem dan pembagian tugas didalam struktur organisasi Polda, dan itu diterabas alias ditabrak secara sengaja oleh Polres Depok. Kebohongan ini sangat menyakitkan hati.

Dan besok para pembohong ini akan me dapat penghargaan 

Bayangkan, betapa banyaknya institusi dan perwira tinggi yang dlangkahi Kapolres Depok untuk mensabotase penanganan kasus 1 ton sabu asal Taiwan ini. Harusnya begitu Kepolisian Negara Taiwan berkeinginan melakukan kerjasama dan bahkan memberikan informasi top secret.

Maka Kombes Herry Heryawan melaporkan kepada Kapolri. lalu Kapolri berkoordinasi dengan Kepala BIN Jenderal Budi Gunawan, Kepala BNN Komjen Budi Waseso dan Dirjen Bea Cukai Heru Pambudi.

Dan idealnya, Kapolri harus memerintahkan Kabareskrim Komjen Ari Dono Sukmanto yang membawahi Direktorat IV Narkoba Bareskrim (yang kini menjabat sebagai Direktur Narkoba adalah Brigjen Eko Daniyanto) agar dibentuk tim menyiapkan penangkapan kapal ini.Koordinator tetap harus dipegang dan dipimpin oleh Bareskrim, dalam hal ini Direktorat Narkoba Bareskrim, dengan melibatkan Polda Banten karena wilayah hukum TKP yang berlokasi di dermaga Anyer adalah masuk dalam wilayah hukum Polda Banten.

Bila Polres Depok mau gagah gagahan ikut, termasuk bila Satgaa Merah Putih bentukan Kapolri Tito, ingin dilibatkan, itu memang diperbolehlan dan sah sah saja, tapi jangan seperti ini caranya,Main embat aja, lalu carmuk dan press release sendiri mengklaim bahwa itu adalah hasil kerja mereka.

98 % adalah merupakan kerja keras Kepolisian Negara Taiwan.

Bahkan mereka ikuti kapal 1 ton sabu itu dari Taiwan sampai ke Anyer, nah sisanya yang 2% adalah bagian penangkapan di Anyer, diserahkan kepada Kepolisian Indonesia.

Skandal Anyer ini sangat memalukan.

dan Artikel ini sebelum nya telah tersebar di dunia maya, namun beberapa saat kemudian hilang dari peredaran dan tidak bisa di akses/dibaca lagi, tanya kenapa ??


Attached Files Image(s)
       
Reply


Digg   Delicious   Reddit   Facebook   Twitter   StumbleUpon  


Users browsing this thread:
1 Guest(s)


  Theme © 2015