• 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
BEKAL UMAT MERAIH KEMENANGAN

#1
[Image: gplus1476328721.jpg]


WEJANGAN ABU HAFS AL-MAQDISI : BEKAL UMAT MERAIH KEMENANGAN
Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah menjadi titik tonggak hilangnya supremasi Islam. Umat Islam sedunia memasuki babak baru tanpa adanya kepemimpinan yang sah menurut syariat. Tentu hal ini berimbas kepada kondisi umat Islam yang hidup tanpa pemimpin. Terombang-ambing dan ditindas dimanapun berada. Sebenarnya usaha-usaha telah banyak dilakukan untuk mengembalikan era kejayaan itu, tetapi tentu saja musuh-musuh Islam tidak akan pernah tinggal diam.

Mulai dari perang fisik, perang pemikiran dan teknologi pun dilakoni musuh-musuh Allah. Tak sedikit usaha-usaha mereka untuk meredam cahaya Islam. Ketika perang fisik tak mampu menanggulangi kekuatan Islam, justru hal ini membuat masyarakat Islam tersadar akan rencana jahat orang-orang kafir. Usaha lain pun digalakkan dengan merusak moral pemuda-pemudi Islam. Kita bisa lihat, bagaimana generasi muda Islam masih banyak yang lupa identitas murninya.

Rencana-rencana jahat ini telah disusun rapi dan indah. Sehingga, semuanya seolah telihat umum dan normal-normal saja. Cara pandang yang berbeda dalam hidup, tentu sangat berpengaruh dalam menanggapi sebuah norma dalam masyarakat. Penggunaan asas demokrasi dalam pemerintahan, jauhnya dari cara hidup Islami dalam bermasyarakat serta lainnya, ini menjadi hal yang biasa karena mindset masyarakat Islam sudah berubah. Mustahil pertolongan Allah akan menghampiri, jika pola pikir dan perbuatannya jauh dari nilai Islami.

Di sini Syaikh Al-Mujahid Ismail bin Abd Rahim Hamid atau sering Abu Hafs Al-Maqdisi memberikan wejangan bagi umat. Wejangan ini berkenaan dengan sifat-sifat yang kudu dimiliki, agar mendapatkan pertolongan dari Allah. Di tengah kesibukannya sebagai Amir Jaisyul Ummah As-Salafi di Baitul Maqdis, beliau masih sempat menuliskan sebuah risalah yang sarat makna, berisi nasehat untuk umat Islam agar disegerakan Nashr/pertolongan dari Allah.

Ada beberapa hal yang harus dimiliki untuk menjemput pertolongan Allah, yaitu;



1. Keimanan

Hal pertama yang harus dimiliki umat adalah pemahaman iman yang benar. Iman adalah ibarat akar dari sebuah pohon yang menjulang tinggi. Hal pertama yang harus dipunyai dan diperbaiki adalah perkara iman. Bilamana perkara yang paling urgen ini cacat atau tidak sempurna, maka yang lain pun tiada guna.

Perjuangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengenalkan Islam kepada umatnya di Makkah, mengundang decak kagum banyak orang pada saat itu. Bangsa Arab dulu masih terbelakang dan tidak diperhitungkan. Ini lantaran bercokolnya dua imperium besar, Romawi dan Persia. Tapi, setelah iman dan Islam terpatri dalam hati, mereka pun menjadi bangsa yang disegani.

Di dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah memberikan janji-janji kepada orang-orang yang beriman. Kita yakin bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang tidak pernah mengingkari janji-Nya. Diantara janji-janji Allah adalah :

Pertolongan Allah dari musuh-musuh orang beriman. (Ar-Ruum 47)

Perlindungan-Nya untuk orang-orang beriman. (Al-Hajj 38)

Perwalian-Nya kepada orang yang beriman.
(Al-Baqarah 257)

Hidayah-Nya kepada orang-orang yang beriman. ( Al-Hajj 54)

Janji kemenangan akan selalu meliputi orang beriman. (An-Nuur 55)

Dan masih banyak lagi... Begitu besarnya janji Allah kepada orang beriman, jadi sudah sepantasnya syarat pertama yang harus dimiliki umat perindu kemenangan adalah iman yang sempurna kepada Allah. Iman yang sempurna adalah secara totalitas menghilangkan sekutu bagi Allah. Mempersembahkan hidupnya baik jiwa dan raganya hanya untuk Allah ta’ala semata.



2. As-Sam’u wa Tha’ah (Mendengarkan sekaligus Menaati)

Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An Nissa : 59)

Ayat di atas secara gamblang telah menjelaskan bagaimana Allah memerintahkan untuk taat kepada Allah, Rasul-Nya dan ulil amri. Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan makna ayat di atas, bahwa Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata tentang firman Allah; “Taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya) dan Ulil Amri diantara kamu”.

Ayat tersebut turun berkenaan dengan Abdullah bin Hudzafah bin Qais bin ‘Adi, ketika diutus oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam satu pasukan khusus. Inilah yang dikatakan oleh seluruh jamaah, kecuali Ibnu Majah.

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali, ia berkata; “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus satu pasukan khusus dan mengangkat salah seorang Anshar menjadi komandan mereka. Tatkala mereka telah keluar, maka ia marah kepada mereka dalam suatu masalah, lalu ia berkata: “Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kalian untuk mentaatiku ?” Mereka menjawab: “Betul”. Dia berkata lagi: “Kumpulkanlah untukku kayu bakar oleh kalian”. Kemudian ia meminta api, lalu ia membakarnya, dan ia berkata: “Aku berkeinginan keras agar kalian masuk ke dalamnya”. Maka seorang pemuda diantara mereka berkata: “Sebaiknya kalian lari menuju Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari api ini. Maka jangan terburu-buru (mengambil keputusan) sampai kalian bertemu dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika beliau perintahkan kalian untuk masuk ke dalamnya, maka masuklah”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda kepada mereka: ‘Seandainya kalian masuk ke dalam api itu niscaya kalian tidak akan keluar lagi selama-lamanya. Ketaatan itu hanya pada yang ma’ruf’. (Dikeluarkan dalam kitab Ash-Shahihain dari hadits al-A’masy)

Syarat utama setelah iman kepada Allah adalah taat kepada pemimpin yang memerintah sesuai syariat. Juga, pemimpin yang menyuruh bukan dalam hal kemaksiatan kepada Allah. Jika ada pemimpin yang memerintahkan untuk berbuat maksiat, maka tidak boleh menaatinya. Pentingnya sifat As-Sam’u wa Tha’ah adalah, penyatuan energi kaum mukminin dalam satu barisan. Sehingga tidak terpecah belah yang justru melemahkan.

Ketika seluruh umat Islam bersatu dan melaksanakan perintah pemimpin dengan patuh, maka kekuatan Islam akan bersatu padu dan membuat orang kafir bergidik ketakutan. Namun, sebaliknya jika umat Islam tercerai berai dan tidak mengindahkan perintah pemimpinnya, maka tunggu saja saat kehancurannya.

Kita bisa mengambil contoh sikap taat dan patuh dari sahabat Khalid bin Walid pada saat perang Yarmuk. Beliau dengan ikhlas hati menerima keputusan dari Khalifah Umar soal pencopotonnya dari jabatan panglima tertinggi digantikan Abu Ubaidah bin Jarrah. Khalid bin Walid dengan tegas berkata, “Saya berperang bukan karena Umar, melainkan karena Allah semata.” Sikap ketaatan dan keikhlasan yang patut kita tiru.



3. Kemauan Kuat

Seseorang yang memiliki iman dan ketaatan luar biasa, tidak akan memperoleh hasil memuaskan tanpa keinginan membaja. Kita lihat bagaimana sahabat-sahabat Rasulullah yang selalu bersemangat untuk melaksanakan semua perintah beliau. Di samping mereka selalu taat kepada Nabi, para sahabat tidak pernah mengeluh sedikitpun dalam semua amalan yang mereka lakukan.

Keinginan kuat di dalam hati ini jika telah terpatri di jiwa, maka akan secara otomatis membentuk sikap kerja keras dan istiqamah. Keinginan kuat yang membaja akan membuat seseorang terdorong melakukan suatu pekerjaan dengan sepenuh hati. Pekerjaan yang dilakukan sepenuh hati akan membuahkan hasil yang memuaskan.

Jika di tengah perjalanan ada gangguan, rintangan dan cabaran, hal itu tidak akan menghempaskan semangat di dalam hatinya. Sebab, keinginan kuat yang bertransformasi menjadi kerja keras akan menghasilkan kontinuitas atau sering kita sebut dengan istiqamah.

Telah menjadi rahasia umum, kontinuitas atau istiqomah adalah perkara yang berat. Menjaga ritme suatu pekerjaan agar selalu stagnan dalam satu keadaan konstan bukanlah hal yang mudah. Akan bermunculan rasa bosan dalam rutinitas yang dikerjakan. Makna suatu pekerjaan pun akan hilang dan semangat akan pupus. Terlebih amal Islami yang jauh lebih berat ketimbang pekerjaan-pekerjaan duniawi. Tentu membutuhkan tenaga yang lebih ekstra.

Jadi, keinginan yang kuat di dalam hati perlu dibudidayakan mulai dari sekarang. Kecintaan terhadap amal Islami saja tidak cukup, jika tidak dibarengi keinginan yang kuat untuk mengapresiasikannya. Sebuah PR besar bagi kita semua jika terkadang semangat hilang dan futur melanda. Semangat harus selalu kita pupuk agar senantiasa istiqamah dan pantang menyerah muncul di dalam diri.

Musuh-musuh Allah telah mengerahkan semua yang mereka miliki untuk merusak Islam. Mereka berkeinginan kuat untuk mewujudkan semuanya ini. Tentu hal ini harus kita lawan dengan keinginan kuat untuk memperoleh kemenangan dan Allah akan menurunkan pertolongan-Nya karena keinginan kuat yang kita miliki. Karena kita adalah umat terbaik di bumi Allah ini.

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّه

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (Ali Imran : 110)



4. Asy-Syuja’ah (Keberanian)

Keberanian sangat berkaitan erat dengan keimanan seseorang. Muslim yang keimanannya telah teruji, akan tampil berani menghadapi berbagai cobaan dalam dakwah. Begitu pula karena keimanan yang kokoh, keberanian untuk membela Islam akan membaja. Segala apa yang mereka punyai akan dipersembahkan demi Izzatul Islam.

Keberanian juga melekat dengan kenabian. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkenal pemberani  semasa hidupnya. Manakala berdakwah di Makkah, berbagai cobaan dan tantangan dihadapi dengan keberanian dan ketabahan. Beliau berani menghadapi segala gangguan dari orang kafir Quraisy berbekal keimanan yang kuat.

Umat ini akan jauh dari kejayaan jika keberanian untuk membela diennya belum terbentuk. Apalagi tergoda kenikmatan duniawi, sekaligus menghapus mental keberanian kaum muslimin. Begitu pula masuknya paham-paham yang merusak tashawwur seorang muslim, hal ini berdampak signifikan terhadap tingkah laku dan cara pandang hidupnya.

Padahal generasi terbaik umat ini telah memberikan berbagai teladan dalam keberanian. Para mujahid sepanjang masa telah banyak memperagakan keberanian yang luar biasa. Singa-singa Allah tak pernah gentar memperjuangkan Diennya. Kecintaannya pada Allah, Rasul-Nya dan Islam melepaskan rasa takut dalam hatinya. Hanya tersisa keberanian yang bermuara pada keimanan yang kokoh.

Syaikh Abdullah Azzam menuturkan keberanian para mujahidin dan rakyat Afghanistan demi membela keimanannya, "Saya belum pernah melihat kesabaran yang melebihi kesabaran mereka. Saya tidak pernah melihat bangsa yang lebih perkasa daripada jiwa mereka. Dan saya tidak pernah melihat bangsa muslim mikmin seperti mereka, yang tidak mau menundukan kepala mereka kecuali kepada Rabb bumi dan langit."

Beliau menceritakan, "Di sebuah desa di Propinsi Lugar, kaum komunis Afghan menyembelih empat puluh tiga orang yang terdiri para lelaki jompo, ulama, kaum wanita dan anak-anak, kemudian jenazah tersebut mereka bakar pada hari I’edhul Adha atau beberapa hari sebelumnya. Dalam pembantaian itu ada anak laki-laki berusia dua belas tahun bersembunyi di bawah tempat tidur. Orang-orang Rusia masuk ke dalam rumah dan menggeledah isiya. Secara kebetulan mereka mendapati Mushaf Al-Qur’an, lantas mushaf tersebut dibanting dengan keras sebagai penghinaan atasnya. Tiba-tiba anak yang bersembunyi tadi bergerak dari bawah tempat tidur dan keluar ke depan Rusia yang membanting mushaf tadi dan memegang erat mushaf tersebut dengan kedua tangannya.

Lantas dia berkata, “Ini adalah kitab Rabb kami, kitab ini adalah kemuliaan dan syiar kami.”

“Buang kitab itu!” perintah Syetan (komunis) tersebut.

Maka dia menjawab, “Meski engkau potong-potong tubuhku, demi Allah aku tidak akan melepaskannya dari tanganku.”

"Karena hormat dan keberanian anak itu kepada agama ini, maka si Komunis pun menghormati anak tersebut. Lantas dia sembelih semua yang ada dalam rumah dan membiarkan anak tersebut tetap hidup.” lanjut beliau

Buya Hamka juga pernah menuliskan kisah keberanian seorang muslim India utara dalam bukunya “Cemburu” yang diterbitkan tahun 1962. Salah seorang muslim yang bernama Abdul Qayyum dengan keberaniannya menghujamkan pisau untuk membunuh penghina Nabi Muhammad di tengah persidangan. Hukuman yang diberikan hakim tidak sesuai dengan syariat Islam bagi para pencela Nabi.

Keberanian yang dimiliki Abdul Qayyum terlahir dari kecintaanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keimanannya membuncah dan kemarahannya membara ketika orang yang paling dicintainya dihinakan. Ia tidak menggubris apa yang terjadi setelah perbuatan terpujinya itu. Ia telah menempatkan kecintaannya pada Rasul melebihi cinta pada dirinya sendiri.

Allah berfirman,

ٱلَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَٰلَٰتِ ٱللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُۥ وَلَا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا ٱللَّهَ ۗ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ حَسِيبًۭا

“(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan." (Al Ahzab : 39)



5. Akhlaq

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.

إنما بعثت لأتمم صالح الأخلاق

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.”




Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai panutan kita telah memberikan contoh yang gamblang dalam berakhlak mulia. Akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Al-Qur’an, hingga Allah sendirilah yang menggambarkannya.

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al Qolam : 4)

Pertolongan Allah akan segera datang jika umat Islam berakhlak mulia. Dakwah Islamiyah akan berjalan lancar jika para dai memiliki akhlak karimah. Sebagaimana dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sikap santun, adil dan senantiasa menjaga lisan selalu teriring dalam kehidupan sehari-hari.

Kerusakan moral dan bobroknya akhlak telah mewarnai kehidupan masyarakat. Tak terkecuali umat Islam yang menjadi sasaran pengrusakan oleh musuh-musuhnya. Ketika seorang muslim jauh dari akhlak Islami, segala tindak tanduknya dilakukan secara serampangan. Syariat Islam diterjang, kemaksiatan dianggap biasa dan sudah dapat dipastikan pertolongan Allah tidak akan turun padanya.

Akhlak ibarat pakaian bagi seseorang. Dia akan dihormati, disegani dan kata-katanya didengar karena akhlak yang mulia. Sebaliknya jika seseorang berakhlak buruk, maka seolah dia berpakaian compang-camping dan diacuhkan orang lain. Untuk itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan agar selalu berakhlak yang mulia. Dari situlah, pertolongan Allah diharapkan segera tiba.

Apa yang terlihat dalam sikap mujahid Anshar Syariah di Yaman mungkin bisa menjadi renungan. Amalan jihad yang mulia jika dibarengi dengan perlakuan dan akhlak yang baik dari para mujahid, akan mudah diterima.

Tidak hanya penguasaan terhadap sebuah wilayah, pengayoman, perlindungan keamanan, dan santunan finansial juga diperlukan. Inilah strategi baru Al-Qaidah berkaca masa lalu yang gagal di Iraq. Sebuah contoh riil, bahwa jihad, dakwah dan pertolongan Allah dapat diraih dengan akhlak yang mulia.


6. Ash-Shidqu (Kejujuran)

Ash-Shidqu adalah asas dari kehidupan. Jiwa-jiwa yang shiddiq dan teladan yang tinggi inilah yang dapat menjaga dan melindungi masyarakat Islam dari kehancuran. Di samping itu, akan mempertahankan eksistensi masyarakat Islam yang tersembunyi dan jumlahnya tidak banyak.

Allah ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَكُونُوا۟ مَعَ ٱلصَّٰدِقِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang shiddiq (benar).” (At Taubah : 119)

Ash-Shidqu dalam ayat ini ialah kesuaian antara kenyataan dan hakikat, antara yang lahir dan batin. Seandainya dada seorang manusia yang shiddiq itu dibuka, lalu Allah memberikan kepadamu kesempatan untuk melihatnya, niscaya engkau tiada dapati pertentangan antara lahir dan batinnya. Itulah keadaan orang yang benar.

Jika seluruh umat Islam memiliki sifat shiddiq di hatinya, niscaya Allah segera menurunkan pertolongannya. Karena orang yang bersifat shiddiq tidak pernah melakukan suatu hal berdasar nafsunya. Ia senantiasa beramal hanya untuk Allah semata. Rasa ikhlas yang tinggi dan kejujuran dalam melakukan perintah dan menjahui larangan-Nya.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya.” (Al Mulk : 2)

Fudlail bin ‘Iyadl menjelaskan tentang ”Ahsanu ‘amalan”, maknanya adalah “ashwabuhu wa akhlashuhu”. Akhlashuhu artinya bersih dari riya’ dan ashwabuhu artinya benar, ash shawab maksudnya sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah dibawa oleh Jibril dari sisi Rabbul ‘Alamin, yakni Al-Qur’an.

Alangkah indahnya jika sifat ini telah mendarah daging di dada kaum muslimin. Sebab tanpa ash-shidqu, sebuah urusan tidak akan bisa tegak dan tidak akan mampu mempertahankan keteguhan tekad. Allah enggan memberikan pertolongan bagi hamba-Nya karena ibadah yang dilakukan tidak semata-mata untuk-Nya.

Banyak manusia mungkin terbiasa berkhutbah di mimbar-mimbar, yang dikaruniai Allah “Jawami’ul kalam”. Perkataan mereka membuat sebuah kekaguman, kecakapan bicaranya pun melenakan para pendengar, orang-orang berkumpul pun lantaran terpesona. Namun, perkataan itu hakekatnya tidak akan bertahan lama, karena buih selamanya tidak akan mapan di muka bumi.

فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً ۖ وَأَمَّا مَا يَنفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْ‌ضِ

“Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap (mapan) di bumi”. (Ar-Ra’ad : 17)

Pertolongan Allah itu berakar kepada kejujuran dan ketulusan seseorang dalam beramal. Jika ia beramal untuk dunia maka hanya itu yang ia dapatkan, jika ia beramal untuk Allah semata, maka Dia akan selalu menolongnya dalam segala hal yang dia inginkan. Bukan hal yang mustahil, jika umat Islam telah terpatri di hatinya sifat ash-shidiq, maka kemenangan demi kemenangan pun akan diraih, walaupun belum mapan dalam kekuatan materi.

Kejayaan Islam tidak mungkin didapat tanpa pertolongan dari Allah. Dengan melazimi sifat-sifat ini iman, As-sam’u Wa Tha’ah, Al-himmah, Asy-syuja’ah, Akhlak dan Ash-shdiqu Insya Allah harapan itu akan tiba. Jika engkau menolong agama Allah, Dia akan menolongmu dan meneguhkan langkahmu.


Disarikan dari Kitab “Ash Shifaatul Muhimmah Lijaili Nashril Ummah” karya Syaikh Al-Mujahid Ismail bin Abd Rahim Hamid, Amir Jaisyul Ummah As-Salafi di Baitul Maqdis
Reply


Digg   Delicious   Reddit   Facebook   Twitter   StumbleUpon  


Users browsing this thread:
1 Guest(s)


  Theme © 2015