• 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
AL FITAN WAL MALAHIM, (Seri 03, Wafatnya Sang Khalifah hingga Furuhat Roma)

#1
[Image: Furat03.jpg]


Bismillahi wal-hamdu lillahi wash-shalatu wa-salamu ala Rosulullah ﷺ,,
Muqaddimah,,

Kemenangan Muslimin dan Kematian Sang Khalifah :

Pada sesi terakhir peperangan (malam ketiga), dimana 1/3 Mujahidin terakhir bersama Khalifah pada akhirnya diberikan Allah kemenangan, “فيجعل الله الدبرة عليهم”, “fayaj’alu allahu adabrotu alaihim”, ketika Allah menimpakan kekalahan kepada ar-Ruum”. (HR.Muslim dalam Kitab al Fitan wa Asyrat al Sa’ah no 2899)

Di sesi pertempuran terakhir inilah “Sang Khalifah Wafat”. Dari Ummu Salamah, Rosullulah ﷺ bersabda: يكون ا ختلاف عند موت خليفة ..."”, “yakuwnu aktilafun inda mauti kholifa”…
Artinya: Akan terjadi perselisihan saat khalifah wafat, ,,,(HR. Imam Ahmad dan Abu Daud)

Dalam riwayat muslim kematian Khalifah beserta pasukan disebutkan “Maka kaum muslimin mengambil senjata mereka dengan segera, kemudian mandi. Dan Allah memuliakan pasukan tersebut dengan mati sebagai Syahid (HR. Muslim)

Dengan wafatnya “sang Khalifah” dan kemenangan al Malhamah al Kubro di fihak muslim, maka peristiwa besar yang hanya berlaku 7 bulan adalah: penyerangan “as-Sufyani” ke Hijaz, pembaiatan al-Mahdi, penaklukan Konstatinopel oleh Bani Ishaq (ahlu Hijaz), dan keluarnya Dajjal. (Musnad Imam Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan al Hakim).

Syaroh:

Jika dihitung sejak awal “al Malhamah al Kubro, maka rangkaian peristiwa itu adalah: Turunnya ar-Ruum di Amaq, keluarnya bala tentara as-Sufyani memerangi Raja dari Timur di Iraq, penghianatan perjanjian damai oleh ar-Ruum, mobilisasi tentara ar-Ruum di Dabiq, al Malhamatul Kubro, kematian sang Khalifah dan kemenangan al Malhamah al Kubro, pembaiatan al Mahdi, 2 kali penyerangan “as-Sufyani” ke Hijaz, penaklukan Konstatinopel oleh al-Mahdi” dan keluarnya Dajjal. Semuanya terjadi hanya dalam tempo tujuh bulan!,,

“sang Khalifah” yang wafat disini adalah dia yang melakoni semua episode pertempuran melawan ar-Ruum, Yahudi Zionis, penaklukan Baitul Maqdis dan al Malhamatul al Kubro dan dia yang menyiapkan segala sesuatu bagi pemerintahan “al Mahdi”, sebagaimana peran sentral Abul Abbas al Saffah dan Abu Ja’far al Mashur dalam menyiapkan pemerintahan bagi Khalifah Muhammad bin Abdullah al Mahdi al Hashimi Abbasi, diera kejayaan Daulah Abbasiyyah, walauallam!,,

Diantara indikasi bahwa “sang Khalifah”, sebelum wafatnya dia adalah “al Manshur” yang merintis kekuasan bagi “al-Mahdi”, sebagaimana dulu Suku Quraisy mengokohkan kekuasaan bagi Muhammad bin Abdullah al Quraisy, Atsar dari Ali bin Abi Thalib mendukung kearah itu, Rosulullah ﷺ bersabda: “…على مقدمته رجل يقال له منصوريو طىء او يمكن لال محمد…”, “…ala muqoddimatihi rojuluun yaqolu lahu Mansuruun yuwatti’u auw yumakkinu ahlihi Muhammad…” (HR Abu Daud no 3740, dhoif dan sanadnya terputus dan seorang lagi majhul. Dhaif Jami Shaghir no 6418)

Kemudian…

Putra-putra “Khalifah” (dzohirnya bukan putra kandung sang Khalifah) mereka saling berperang untuk memperebutkan posisinya. Rosulullah ﷺ bersabda:

"يقتتل عند كنز كم ثلاثة كهم ابن خليفة ثم لا يصير اءلى و ا حد منهم"
“yaqtatilu inda kanzikum salasatun kuluhum ibnu kholifatun tsumaa la yansiru ilaa wahidan minhum ”

Artinya: “kelak tiga orang anak khalifah akan berperang didekat perbendaraan kaum muslimin (كنز كم), tidak ada yang menang, melainkan satu orang…” (HR. Ibnu Majah, Ibnu Hibban, al Hakim dalam al Mustadrok 4/463/4880, al Bushiri dalam az-Dzawa’id no 1442, dengan sanad yang sahih. Komentar Ibnu Katsir dalam an-Nihayah hlm. 26, Ibnu Majah meriwayatkannya sendirian, namun isnadnya kuat lagi shahih. Al-Hakim menshahihkannya sesuai syarat asy-syaikhaini)

Syaroh:

Kata-kata “kanzi”/ “كنز” dari hadits diatas merunjuk kepada makna zhohir yang berarti “simpan”, atau penyimpanan/perbendaharaan, al kanzu “الكنز” jamaknya kunudzu “كنوز”. Sebagian pemerhati hadits akhir jaman memaknainya sebagai “Ka’bah”.

Akan tetapi, simpanan dan perbendaharaan Qaum Muslimin maknanya mungkin saja “al Hijaz” atau “as-Syams”, karena kedua-duanya negeri akhir jaman, tempat berkumpulnya/bendaharanya qaum muslimin akhir jaman. Namun, jika “kanzi” itu ditafsirkan sebagai “Ka’bah” maka ini juga tidak salah, karena putra-putra khalifah menginginkan penguasaan “Mekkah” sebagai bentuk legitimasi yang sah selaku “Khalifah Qaum Muslimin”!,,

Dengan kata lain, siapa saja yang berhasil menguasai “Ka’bah” dan dibai’at disana, maka dialah yang sah sebagai “Khalifah Qaum Muslimin”. Walauallam!,,

Syaroh:

Putra-putra khalifah disitu “dzohirnya” bukan anak kandung sang Khalifah yang wafat dalam peperangan dengan “Qaum ar-Ruum”,,

Atau,,

Bukan juga putra-putra anak Raja Saudi di Hijaz, yang diramalkan dan diyakini orang-orang dengan asumsi bahwa pasca kematian Raja Salman, maka tiga orang Pangeran Saudi akan saling berperang di sisi Ka’bah demi memperebutkan kekuasaan di Saudi Arabia. Ini sungguh ngawur!,, Rejim Saudi yang Thoghut itu, disejajarkan dengan Kekhalifahan!?,,

Namun,,

Makna putra-putra Khalifah yang dimaksudkan dalam hadits tersebut adalah “orang-orang yang memiliki darah Quraisy, dan merekalah yang berhak atas “al-Uzma” Qaum Muslimin. Mereka adalah anak cucu Bani Umayyah dan anak cucu Bani Hasyim al Alawiyyin!,, ini kemungkinan yang benar!,, karena…

Klan Bani Umayyah al Quraisy mewakili masyarakat Bani Kalb as-Syams,,

Sedangkan,,

Klan Bani Hashimi al Alawiyyin al Quraisy mewakili masyarakat Rafidhah Syiah di Iraq!,,

Adapun “al-Mahdi al Hashimi al Alawiyyin al Quraisy mewakili masyarakat Sunni as-Syams dan Sunni Iraq yang sudah berjuang dengan Khalifah sebelumnya”,,

Hujjah-nya!,, sudah menjadi kebiasaan orang Arab menyebut nenek moyang itu sebagai “Bapak atau Ayah”, sebagaimana Rosulullah ﷺ menyebut Ibrahim Alaihisallam itu sebagai Bapakku!,,

ولد لي الليلة غلام فسميته باء سم اءبى: اءبراهيم...”
“…wulida liyaa alaaylatu qulamun fasamaaytuhu biismi Abi: Ibrohim”

Artinya: …telah dilahirkan untuk ku semalam, seorang anak laki-laki, maka aku namakan dia dengan nama Bapak ku, yaitu: Ibrahim!,, (HR. Muslim 7/76)

Dan banyak lagi hadits dan astsar shahih yang diucapkan oleh Rosulullah ketika dia memuji para Nabi Ibrahim, Nabi Adam sebagai “Bapak ku”!,,

Dan terkadang orang-orang Arab menyebut Paman sebagai Ayah, sebagaimana para Sahabat rodhiallahuanhum aj’main menyebut al Abbas bin Abdulmutallib sebagai ayah bagi Rosulullah ﷺ, sebagaimana firman Allah dalam Surah Yusuf 38 “dan aku mengikuti agama nenek moyangku: Ibrahim, Ishak dan Yakub”.

Berkata Abu Ja’far al Manshur ketika dia men-“hujjah” Muhammad bin Abdullah al Hasani al Mahdi “bahwa Allah sering menjadikan paman sebagai ayah dan memulainya dengan menyebut anak tertua”. Kemudian beliau (Abu Jafar al Mansur) membacakan ayat dari surah Yusuf tersebut (Tarikh Banu Abbasiyyah, karya al Khudari).

Dan juga perkataaan Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah ketika setiap kali istrinya melahirkan anak perempuan, maka beliau rahimahullah berkata:

الا بيا ء كا نو ا ابا ء بنا ت
“al ambiyaa’u, kaanuw abaa’u banaatiin”

artinya: Para nabi itu mereka adalah para bapak bagi anak-anak perempuan (Tuhfatul Maulud fil Ahkamil Maulud/Bab II)

Ini menunjukan “keumuman lafadz”, yakni qias bahwa para nabi itu “Bapak” bagi setiap anak-anak perempuan yang dilahirkan!,,

Dari wazan diatas, dengan demikian, wajar kiranya orang-orang Quraisy di Syams dari keturunan Umayyah, mengatakan Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan rodhiallahuanhu dan anak turunannya sebagai BAPAK KU!,,
Dan juga orang-orang Quraisy di Iraq, dari keturunan Husein Ibn Ali rodhiallahuanhu mengatakan Khalifah Ali atau Husein adalah BAPAK KU!,,

Hal tersebut merupakan kebiasaan lisan dan kejernihan nasab orang-orang Arab!,,

Tiga orang “Putra Khalifah” yang muncul semuanya dari Quraisy, yakni:

Seorang Raja dari Barat (berjuluk “as-Sufyani”) dari “Kabilah Bani Umayyah yang didukung penduduk “al-Kalb-as Syams dan Qaum ar-Ruum”,,

Seorang Raja dari Timur (al Khurasani ar Rafidhah Syiah), dari Kabilah Alawiyyin dari Husein Ibn Ali, dan dia didukung oleh Qaum Rafidhah Majusi Persia-Iran.

Yang ketiga adalah seorang pemimpin yang dikehendaki dari Kabilah Alawiyyin yakni “al Mahdi”, namun belum ada tanda-tanda. Itu sebabnya, para pendukung sang Khalifah yang wafat mencari-cari dirinya”.

Awalnya antara “as-Sufyani dan al-Khurasani”, berselisih atau “اختلاف”/ikhtilaf, siapa yang paling berhak atas “al-Uzma” bagi Umat Islam, sebagaimana “dzhohir dari hadits Imam Abu Dawud no 3737 dalam Kitabul al Mahdi.

Namun, ketiganya yakni “asu-Sufyani, al Khurasani terlibat peperangan sengit dengan silah, atau “يقتتل ” , /yukhotilu, atau berperang. (HR. Ibnu Majah no 4074)



Episode 1 : Quraisy Umayyah versus Quraisy Alawiyyin al Huseini Rafidhah :

Raja dari Barat (Syiria dari Quraisy yang didukung oleh penduduk asli Syiria bagian selatan, yakni “Bani Kalb”) dan juga didukung oleh “ar-Ruum”!,,

Nama Raja dari Syams (wilayah Bani Kalb) adalah “يخرج رجل يقا ل له السفيا ني في عمق دمشق” “ yakruju rojuluun yaqoolu lahu as-Sufyaniy fiy Dimasqi”, yakni Sufyani dari Damaskus!,,

(HR. Al Hakim dalam al Mustadrok, shahih menurut syarat Syaikhani dan juga disepakati oleh Adz Dzahabi)

Kemudian “as-Sufyani” sang Raja dari Barat dengan dukungan Bani Kalb dan “ar-Ruum”, bergerak menyerang Raja dari Timur (al Khurasani ar Rafidhah Iraq yang didukung oleh Rafidhah Majusi Iran) dan berhasil membunuhnya. Ia (as-Sufyani) kemudian mengutus pasukan ke Madinah di Hijaz untuk membunuh putra Khalifah ketiga (al-Mahdi), namun ditengelamkan. Ia kemudian mengutus pasukan lagi….

يسير مللك المغر اءلى مللك المشرق فيقتله فيبعث جيث اءلى المدينة فيخسف بهم ثم يبعث جيثا
“yasiyru mulku al magribi ila mulku al masyriq fayaqtuluhu fayabasyu jaisysan ila al Madina (tu) fayukhsafu bihim tsuma yabasu jaisysan”

(HR. Ath-Thabrani dalam al-Ausath. Al-Haitsami mengatakan rowi Laits bin Abu Sulaim seorang Mudallis, sedang yang lain “tsiqah”)

Syaroh:

Munculnya sosok “as-Sufyani” dan terjadinya peperangan di Iraq!,, akibat invasi “as-Sufyani” merupakan hikmah dari Allah agar muslimin tidak lagi menghadapi dua pedang sekaligus, yakni Pedang “Qaum ar-Ruum” dari “Bani Asfar” di Amaq dan Dabiq!,, dan Pedang sesama muslimin!,, Rosulullah ﷺ bersabda: “لن يجمع الله على هذه الاءمة سيفين سيفا منها و سيفا من عدو ها

“lan yajma’allahu aka hazihi al umaati sayfuyni sayfaan minhaa wa sayfaan min aduwaahaa”

Artinya: “sekali-kali Allah tidak akan mengumpulkan dua pedang pada umat ini; satu pedang dari kalangan mereka (muslimin) dan satu pedang dari musuh dibelakang mereka!,,” (HR. Imam Ahmad dalam Musnadnya dan juga Abu Daud dengan sanad yang baik)

Pasca suksesnya invasi “as-sufyani” ke Iraq, dan dia berhasil membunuh Raja dari Timur!,, sesuai dengan nubuwah, maka giliran “as-Sufyani” yang akan Allah binasakan di Padang Pasir “al Baida” dekat Madinah, pasca ia hendak menyerang “al-Mahdi”.


Episode 2: Sufyani al Umawi al Quraisy versus al Mahdi Quraisy :

ketika para pendukung sang “kholifah” yang telah wafat, mencari penganti sang “kholifah”, yang mana sesuai nubuwwah, “sang suksesor” itu tidak lain adalah “al-Mahdi al Quraisy”, dan dia bermukim di Hijaz (Mekkah dan Madinah). Dari Ummu Salamah, Rosulullah ﷺ bersabda:

يبا يع لر جل من اءمتي بين الر كن و المقا م, كعدة اءهل بدر, فياء تيه ءصب العر اق, و اءبدال الشام, ...."

“seseorang dari umatku akan dibai’at diantara rukun dan maqom oleh orang-orng sejumlah sahabat yang ikut dalam Perang Badar. Para tokoh masyarakat Syams dan orang-orang mulia dari Iraq berdatangan untuk membaiatnya…” (HR Abu Dawud no.3737, al Hakim dalam al-Mustadrak no. 8446 dan lainnya).

Maka, pasca mengalahkan Raja Timur di Iraq, “as-Sufyani-al Quraisy al Umawi” mengutus pasukannya, yakni bala tentara “Bani Kalb dari kalangan warga Syiria bagian Selatan” untuk menghentikan “suksesi” bagi al-Mahdi al Quraisy al Hashimi. Dari Ummu Salamah, Rosulullah ﷺ bersabda:
فياء تيهم جيش من الشام حتى اءذا كانوا باابيداء خسف بهم, شم يسير اءليه ر جل من قريش اءخو اله كلب فيهز مهم الله...

“faya’atihim jaiysuun minal as Syami hataa iza kaanu al baidha’i khusifan bihim, tsumma yasiyru ilayhi rojuuun min Qoroisyiin akhwalahu kalbuun fayahzimuhumullahu…”

Artinya: “maka pasukan dari as-Syams dikirim untuk memeranginya, namun tatkala sampai di al Baidha tiba-tiba seluruh pasukan tersebut ditengelamkan dalam perut bumi. Setelah itu, seorang laki-laki dari Quraisy (as-Sufyani) yang mempunyai paman dari pihak ibunya dari Kabilah Kalb datang memeranginya (al-Mahdi), namun Allah mengalahkan mereka…(HR Abu Dawud no.3737, al Hakim dalam al-Mustadrak no. 8446 dan lainnya).

Demikianlah nasib akhir “as-Sufyani” bersama para pendukung setianya. Dengan demikian, Allah telah menghindarkan Qaum Muslimin untuk menghadapi dua pendang secara bersamaan dengan membinasakan “as-Sufyani” dan “Raja Iraq” sebelum “al-Mahdi” memerangi “ar-Ruum dari Bani Asfar” di Amaq dan Dabiq!,,

Siapa 313 atau 314 orang Pembaiat al-Mahdi?

Berdasarkan hadits diatas, timbul pertanyaan, siapakah kelak yang akan membaiat “al-Mahdi”?

apakah para ulama dari seluruh dunia?,,

atau dari kelompok atau selain mereka (ulama)?. Tidak!,, mereka bukan ulama kibar dari seluruh dunia dan tidak pula ulama haramain maupun ulama jazirah Arab!,,

Syaroh:
----------

Sekedar mengingat: bahwa “ulama” dalam al Quran memiliki beberapa makna diantaranya: “al-amanu wa ilma” ءامنوا و العلم (QS. Al-Mujadalah:11), “al-aql” , “al fikr”, “al-Nazhr”, “al-Basyar”, “al-Radabbur”, “al-Ittibar” dan “al-Dzikr”الذكر (QS. an Nahl:43). Semua kalimat ini maknanya adalah “ulama”. Semakna dengan kata-kata “alimu” ( علم), “yaklamu” (يعلم), dengan isim fail (pelaku) disebut “aalimun” (عا لم). Jamaknya “ulamaa’u”.

Sedangkan dalam hadits riwayat diatas, jika “di scanning”, maka didapati petunjuk untuk mengetahui siapa yang akan membaiat “al-Mahdi” ada pada tiga “clue”, yakni: “al-asabu al Iraq” (العصب العراق) wa/ و , “abdalu as-Syams” ( اءبدال الشم ), dan kata-kata “kaidah ahlu Badr” (كعدة اءهل بدر ).

Adapun pembaiat al-Mahdi, tidak lain adalah “asabu Iraq dan abdalu as-Syams”, dan metode baiatnya mengikuti kaidah ahli Badar. Yakni apa yang telah dilakukan oleh para sahabat yang ikut serta mendampingi Rosulullah ﷺ dalam Perang Badar.

Analisis


“al-Mahdi”, tidaklah dibaiat oleh jumhur para ulama haramain atau ulama dunia, sebagaimana yang diyakini oleh banyak orang. Kondisi ini memiliki dua pengertian:

Pertama.

Dari hadits yang mengisahkan proses baiat bagi “al-Mahdi”, Ulama Haramain dan Jazirah Arab tidak disebutkan secara eksplisit. Justru yang jelas disebutkan yakni “Abdalu as Syams dan al-asabu Iraq”!,,

Kalimat “Abdalu as Syams”, itu berarti orang-orang yang peduli dengan kondisi as-Syams. Yakni masyarakat Syams atau (العبد) yang ini merupakan “tasghir” dari kalimat (اءبدال) yang berarti “masyarakat umum”, atau masyarakat kecil yang mengirim perwakilan atau tokoh-tokohnya sebagai utusan untuk memberikan baiat kepada “al Mahdi”.

Adapun kalimat “al-asobu atau asooibu Iraq” (عصاءب,عصب) merupakan tasghir dari kalimat ashobiyyun (الصبي), ashobiyyatun (العصية), yakni “kelompok atau golongan” yang juga semakna dengan “al-Jamaah” (الجما عة) .

Kedua.

Hal tersebut dikarenakan sistem “Kekhalifahan” sudah dibangun terlebih dahulu oleh “Hilful Muthayyabin” (جلف المطيبين) yang didalamnya tergabung “ahlu Halli wa Aqdi” yakni para Ulama dan Syura Mujahidin Iraq wa Syams. Disinilah peran para “Ulama ahlu Tshuqhur”, “mujahid ahlu Tshughur” dan khalifah pertama sebelum “al Mahdi” itu dibai’at.

Adalah “Sang Khalifah” sebelum al-Mahdi, dialah yang menyiapkan segala sesuatu bagi kekhalifahan “al-Mahdi” bersama para ulama dan pemimpin mujahidin terdahulu dalam Syura “Ahlu Halli wa Aqdi”.

Dengan demikian, maka jangan heran, “al Mahdi” itu menjalankan sesuatu yang sudah disiapkan kelembagaannya, “sementara al-asabu al Iraq dan abdalu as-Syams”, hanya berperan meneguhkan dan menolong “al-Mahdi”, dan bukan membangun sesuatu yang baru. Walahuallam!,,

Ketiga.

Tempat pembaiatan sangat jelas disebutkan, yakni di Hijaz yakni Kota Mekkah tepatnya di antara “rukun dan maqom Ibrahim!,, namun lagi-lagi tidak disebutkan peran “Ulama Haramain” disana,,


Siapakah “al-asabu al Iraq dan abdalu as-Syams!”,,

Merekalah yang mencocoki perkataan Sufyan Ibnu Uyainah rahimahullah, ketika menafsirkan QS. al Ankabut:69: “ والذ ين جهدو ا فينا لنهدينهم سبلنا “, “walazi na jahadu fiynaa lanahdi yanaahum subulanaa”

Artinya:
“dan orang-orang yang berjihad dijalan kami niscaya kami tunjukan kepada mereka jalan-jalan kami”

Kata Sufyan Ibnu Uyainah “jika kalian telah menyaksikan manusia telah berselisih, maka ikutilah pendapat Mujahidin dan “Ahluts Tsughur”.

Dengan demikian mereka tidak lain adalah para mujahidin dan para ulama mujahid “Ahluts Tsughur”, yakni orang-orang Arab “anshor Syams dan Iraq” yang tinggal dibagian Utara Syiria dan Utara al Jazirah dibagian Utara Iraq. Tiga wilayah ini merupakan basis bagi Kabilah “al-Mudhar” yakni cucu dari Adnan (Adnaniyyun). Kabilah ini hidup dibagian Utara Syiria (ar-Raqqa dan sekitar) dan al Jazirah Ninawa Iraq (Tal Afar dan Mousul). “Sedangkan Muhajirin”-nya adalah Qaum yang datang dari segala penjuru dunia yang intinya berasal dari “Khurasan”.

Mereka “al-asabu al Iraq dan abdalu as-Syams!” tidak lain adalah “ashabu rayati suud” atau pemengang “panji-panji hitam al uqab” “laa illah ha illah”. Mereka adalah 1/3 dari sisa-sisa 70 ribu mujahidin as-Syams ditambah 12 ribu mujahidin dari “Aden-Abyan” yang dahulu bersama “Khalifah Qaum Muslimin”, memenangkan Peperangan al Ghothoh dan menaklukan Baitul Maqdis dalam Peperangan al Malhamah al Kubro.

Rosulullah ﷺ bersabda:

"شم تطلع الرايا ت السو د من قبل المشر ق فيقتلو نكم قتلا لم يقتله قو م شم ذكر شيءا لا اءحفظه فقا ل فاء ذا ر اء يتموه فبا يعوه و لو حبوا على الشلج فا ءنه خليفة الله المهدي

Artinya: …Lalu munculah panji-panji hitam dari wilayah Timur. Mereka lantas memerangi kalian (Arab Murtad/Bani Kalb) dengan peperangan sengit yang sama sekali belum pernah dilakukan Qaum manapun, Jika kalian melihatnya, maka berbaiatlah kepadanya walaupun sambil merangkak diatas salju, karena sesungguhnya ditengah mereka ada Khalifah Allah al-Mahdi (HR. Ibnu Majah dan al Hakim)



Orang-orang lemah dari Iraq dan Syams:

Adapun 313 atau 314 pembaiat al-Mahdi adalah orang-orang lemah dari kelompok dan qaum teraniaya di Iraq dan Syams, sebagaimana kondisi para sahabat “asabiqun al awalun” yakni Muhajirin yang dahulu membai’at Rosulullah ﷺ dari kalangan lemah, pada budak dan orang-orang yang tersisih dari qaum-nya.

Kombinasi dua golongan inilah yang akan keluar dari Hijaz pasca membaiat al Mahdi memerangi “as-Sufyani” beserta bala tentaranya, serta melalui mereka Konstatinopel ditaklukan sebagaimana hadits diatas. Rosulullah ﷺ bersabda:

شم يخرج اءليهم روقة المسلمين اءهل الحجز الذين لا تا خذهم باالله لو مة لا ءم حتى يفتح عليهم قسطنطينية وروما با لتسبيح و التكبير

“Tsumma yakhruju ilayhim rowqotu al muslimina ahli al Hijazi allaziyna la taa khuzuhum billahi lawmata laiminhata yukhtaju alayhim Qostantiyniytu warowmaa bil ttasbihi wa takbiyri”

Artinya: “kemudian qaum muslimin terbaik dari “ahlul Hijaz” yang tidak takut celaan orang yang mencela dijalan Allah hingga konstatinopel ditaklukan untuk mereka, sedang Roma ditaklukan dengan tasbih dan takbir”.



Ahlu Hijaz (penduduk Mekkah dan Madinah)

Kelompok ketiga yang mendukung “al-Mahdi” akan muncul setelah “al-Mahdi” bersama 314 orang pembaiatnya dan didukung oleh “ashabu rooyatis suud”, berangkat memerangi “as-Sufyani”, dan bala tentaranya dan dilanjutkan ke konstatinopel. Maka Ad-Dajjal datang menguji keimanan penduduk Mekkah dan Madinah dari atas “Sabkhah al Harf/سبخة الحرف. Dari Anas bin Malik, Rosulullah ﷺ bersabda:
"عن اءسبن ما الك ر ضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه و سلىم قل: ليس من بلد اءلا سيطوءه الد جال اءلا مكة و المدينة..."
Maka tidak ada sebuah negeripun dimuka bumi melainkan akan dimasuki oleh Ad-Dajjal, kecuali Mekkah dan Madinah. Kemudian Allah mensucikan penduduk kedua kota tersebut, dan dari Madinah orang-orang kafir wal munafiqun dikeluarkan:
المدينة ثلاث ر جفا ت يخر ج اءليه منها كل كا فر و منافق و في لفظ: فيخرج اءليه كل منا فق ومنا فقة
“al madinahtu tsalasa rojafati yakhruju ilaiyhi minha kullun kafirun wa munafiqin wafiy lafadz: fayakruju ilayhi kullun manafiqin wa munafiqotu”
Artinya: Kota Madinah bergonjang tiga kali, setiap orang kafir dan munafiq keluar untuk bergabung bersama ad-Dajjal (HR. Bukhori dalam Kitab al-Hajj no. 1748 dan Muslim dalam al Fitan wa Asyrat al Sa’ah no. 2942)

Dan juga dari hadits tersebut, mengindikasikan bahwa sisa-sisa dari “ahlul al Hijaz” yang tidak berhijrah ke Baitul Maqdis pasca Futuhat Syams, maka para hari pembersihan dan pensucian atas al-Hijaz, yakni Yaumul al Kholasi “يوم الخللص”, Allah telah sucikan dan bersihkan mereka yang tertinggal dari cemoohan orang-oang dan telah Allah buktikan kejujuran dan ketulusan Iman mereka (Dishahihkan al Abani dalam Silsilah hadits shahihah no 3081)

Mereka (ahlu al Hijaz) inilah yang dahulu tidak dicela oleh orang-orang dikarenakan sikap mereka yang tidak mengikuti manusia kebanyakan, namun atas keyakinan dan keteguhan iman merekalah Konstatinopel dan Roma itu dapat ditaklukan dengan Tasbih dan Takbir di era al Mahdi. Walauallam!,,

Syaroh:

Walauallam!,, jika wazan kita mengunakan hujjah Abu Ja’far al Manshur ketika dia men-“hujjah” Muhammad bin Abdullah al Hasani al Mahdi “bahwa Allah sering menjadikan paman sebagai ayah dan memulainya dengan menyebut anak tertua”. Kemudian beliau (Abu Jafar al Mansur) membacakan QS. Yusuf 38 “dan aku mengikuti agama nenek moyangku: Ibrahim, Ishak dan Yakub”. Tarikh Banu Abbasiyyah, karya al Khudari). Dan juga kebiasaan orang-orang Arab menyebut Paman sebagai Ayah, sebagaimana para Sahabat rodhiallahuanhum aj’main menyebut al Abbas bin Abdulmutallib sebagai ayah bagi Rosulullah ﷺ.

Maka dengan demikian, Bani Tamim bin Murrah, yakni Suku nya Khalifah Abu Bakar al Shiddiq rodhiallahuanhu, yang juga dikenal sebagai “adnaniyyun”, yakni anak turunan “Adnan”, cucu dari Ismail Alaihisallam. Sesungguhnya, tidak lain mereka adalah “Bani Ishaq”, dikarenakan Ismail adalah adik dari Ishaq bin Ibrahim Khalilurahman !. Ini juga yang dikatakan oleh Qodhi Iyadh bin Musa al Yahsibi rahimahullah yang dikutip oleh Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarh Sahih Muslim Bab 9/307!,, walauallam!,,

Dengan demikian jelaslah siapa 70 ribu “Bani Ishaq” itu yang dikatakan oleh Nabi kita sebagai Qaum yang melalui mereka Allah bukankan pintu Kota Konstantinopel dan Kota Roma milik Qaum Pangan Salibis itu dengan kalimat Takbir dan Tahmid! “لا تق م السا عة حتى يغزوها سبعون اءفا من بني اءسحق... ”, “la taqumu alsaatu hatta yakhzuwhaa sabatuwna alfaan min baniy Ishaqi” (HR. Muslim dalam kitab al Fitan wa Asyratus Sa’ah no 2920)

Maka hadits Nabi kita yang menyebut konstantinopel itu akan ditaklukan oleh “BANI ISHAQ”, maka tidak lain itu adalah Bani Tamim bin Murrah, dan merekalah yang disebutkan sebagai oleh Rosul ﷺ sebagai “kelompok terakhir yang akan memerangi al Masih ad-Dajjal, “hatta yukhotilan akhiruhum al masih al Dajjal “حتى يقا تل اخر هم المسيح الدجال”, (HR. Abu Daud Kitab al-Jihad no 2125)

Selain itu Bani Tamim bin Murrah, baik yang tinggal di Iraq maupun yang di Hijaz. Adalah satu diantara tiga anak Suku Quraisy (bersama Bani Hashimi dan Bani Zuhrah) yang memiliki ikatan “Hilfal Muthayyabin” “حلف المطيبين”, yakni sumpah untuk menolong, saling menguatkan dan membantu orang-orang yang terzalimi dengan darah dan kehormatan mereka!,,

Ketahuilah!,,

“Hilfal Muthayyabin” “حلف المطيبين”, adalah sumpah sejak era Jahiliyyah yang tetap di syariatkan bagi anak turunan Quraisy dari Kabilah Bani Hashimi, Bani Zuhrah dan Bani Tamim bin Murrah!,, sebagaimana Hadits Abdurrahman bin Auf, Rosulullah ﷺ bersabda:
شهدت مع عمو متي حلف المطيبين, فما اءحب اءن اءنكثه, واءنلي حمر النعم…”
“syahidtu maa amuw matiy Hilfa a Mutayyabiyna, fama uhibu an ankusyatu, wa anna liya al nnamami”

Artinya: “Aku (Rosulullah) pernah menghadiri Hiful Muthayyabin bersama paman-pamanku. Maka aku tidak ingin melanggarnya meskipun aku diberi unta merah (hewan ternak yang paling berharga diera itu).
Shahih, al Adabul al Mufrod 256/ 567, Ahmad no 1/190 dan al Hakim Bab 2/220.

Tidak ada suku Arab yang memiliki sumpah sejak era Jahiliyyah yang dilindungi oleh Syariat kecuali “حلف المطيبين” milik Bani Hashimi, Bani Zuhrah dan Bani Tamim bin Murrah. Jika dahulu Bani Tamim bin Murrah mendukung tegaknya Daulah Abbasiyah al Hasimi, maka begitu sebaliknya Bani Tamin bin Murrah akan mendukung Kekhalifahan dari Bani Hashimi al Quraisy sebagaimana mereka memberikan kesetiaan dan dukungan kepada para pemimpin “Daulah Islam Iraq, Daulah Islam Iraq wa Syams dan Daulah Islamiyyah, Yakni as Syaikh al Mujahid Amirul Mukminin Abu Umar al Baghdadi al Huseini al Quraisy rahimahullah, as Syaikh al Mujahid Khalifah Abu Bakar al Baghdadi al Huseini al Quraisy hafidhohullah dan Khalifah ‘al-mahdi’ Muhammad bin Abdullah al Alawi al Quraisy kelak!,, Biiznillah!,,


Wallahu’alam bishawab!.

Apabila ada kelalain maka kesempurnaan hanyalah milik Allah Rabb semesta alam. Demikian narasi ini disusun semoga Allah berkenan membimbingnya. Saya sampaikan, bahwa saya hanyalah manusia, dan apa yang saya susun sesungguhnya berdasarkan atas kesimpulan dan bukan sebuah keyakinan”. wa akhiiru qolam, alhamdulillaahi wal minah.

Disusun dari tanggal 21-29 Ramadhan 1438 Hijriyah. Semoga Allah Azza wa Jalla berkenan membimbing usaha ini, dan teriring do’a atas keberkahan sebagaimana Janji-Nya pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan ini. Baaqiyah!

Wassallam!
oleh: Benjamin

Reply


Digg   Delicious   Reddit   Facebook   Twitter   StumbleUpon  


Users browsing this thread:
1 Guest(s)


  Theme © 2015