• 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Aksi 212 "Bela Islam" Adalah Kerusakan di Tengah Tengah Umat

#1
Kenapa demikian? Bukankah mereka membela agama islam? Di mana kesalahannya?

Bukanlah semangat dan apresiasi mereka yang salah, bukan pula orasi orasi mereka yang mengklaim membela islam yg salah.

Apa yang trjdi di lapangan, dmna mereka kluar meminta keadilan untuk penista agama dgn jalan demonstrasi demonstrasi damai, mereka berusaha untuk membela satu sisi agama, namun mereka merusaknya dari sisi yang lain, bahkan lebih besar mudharatnya dari yg mereka orasikan.

1. Keluar meminta keputusan/keadilan kepada hukum thaghut adalah syirik.
Inilah bahaya besar yg tak tersadari oleh mereka. Kami tidak akn menuduh atau menvonis secara keseluruhan, tapi biarlah ini menjadi renungan buat mereka peserta aksi khususnya, dan utk kami kaum muslimin umumnya.

Ingatlah ketika Allah brfirman

"Barang siapa yang kafir kepada Allah setelah dia beriman kecuali orang yang dipaksa sedangkan hatinya masih tenang dengan keimanan akan tetapi barang siapa yang melapangkan dadanya untuk kekafiran maka baginya kemurkaan dari Allah dan baginya adzab yang pedih. Itu dikarenakan mereka lebih mencintai kehidupan dunia daripada akhirat dan sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kaum yang kafir.” (An Nahl: 106-107)

Allah tidak mengudzur seorangpun dalam kekafiran yang nampak selain ikrah. Maka barangsiapa yang menampakkan kekafiran sedangkan dia tidak dipaksa maka dia dipastikan menjadi kafir karena pelapangan dadanya untuk kekafiran, karena adanya keterkaitan antara dzahir dan bathin. Maka tidak ada udzur sama sekali bagi seorangpun dalam hal itu selain ikrah. Sama saja apakah kekafirannya itu karena kecintaan dia terhadap tanah air, atau keluarganya, atau kerabatnya, atau karena dia memperkirakan akan adanya gangguan orang-orang kafir dan lain sebagainya. . .

Al Hafidz Ibnu Katsir berkata ;

"Maka barangsiapa yang meninggalkan syari’at yang jelas yang diturunkan kapada Muhammad bin ‘Abdillah, penutup para Nabi dan berhukum kepada syari’at yang lain yang telah mansukh, ia telah kafir. Lalu bagaimana dengan orang yang berhukum kepada Ilyasa dan lebih mengutamakannya dari pada syari’at tersebut ? Barangsiapa yang melakukannya dia kafir berdasarkan ijma’ kaum Muslimin. Alloh berfirman :

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan siapakah yang lebih baik hukumnya dari pada Alloh bagi kaum yang yakin ?”

Dan Alloh berfirman :

“Maka demi Robb mu mereka tidaklah beriman sampai mereka memutuskan yang mereka perselisihkan kepadamu kemudian mereka tidak dapatkan keberatan dalam dada mereka terhadap apa yang kamu putuskan dan mereka pasrah dengan sepenuhnya.”

Maka Maha Benar Alloh Yang Maha Agung.” (Al Bidaayah Wan Nihaayah XIII/ 119)

2. Menuntut keadilan dengan jalan demonstrasi adalah bid'ah. Sebab demonstrasi adalah jalan agama lain. Padahal Allah berfirman

"Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.” [QS Al An’aam: 153]

Ayat ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa jalan itu hanya satu, sedangkan jalan selainnya adalah jalan orang-orang yang mengikuti hawa nafsu dan jalannya ahlul bid’ah.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata :

“Dan telah diketahui secara pasti dalam diin Islam dan berdasarkan kesepakatan kaum muslimin bahwasanya barangsiapa memperbolehkan mengikuti selain diinul Islam, atau mengikuti syariat selain syariat Muhammad SAW, maka dia kafir sebagaimana kafirnya orang yang beriman dengan sebagian kitab dan kafir dengan sebagian yang lain. Sebagaimana firman Alloh

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap Alloh dan para RosulNya, dan hendak membedakan antara Alloh dan para RosulNya, dan mereka mengatakan : kami beriman kepad sebagian dan kami kufur kepada sebagian yang lain, dan mereka hendak mengambil jalan diantara itu. Mereka adalah orang-orang kafir yang sebenar-benarnya dan kami telah siapkan bagi orang-orang kafir siksaan yang menghinakan”. (QS. An-Nisaa’:150-151).

(Majmu’ Fatawa : XXVIII/ 524).

Dan ditempat lain dalam Majmu’ Fatawanya, Syaikhul Islam menyatakan ijma’ atas kafirnya orang yang memutuskan perkara dengan syari’at yang didalamnya mengandung penghalalan yang haram atau pengharaman yang halal atau pengguguran perintah-perintah dan larangan syar’iy. Dan semua ciri yang ia sebutkan ini sesuai dengan keadaan undang-undang pada masa sekarang. Diantaranya adalah perkataannya yang berbunyi: “Dan kapan saja manusia itu menghalalkan yang haram — yang telah disepakati — atau mengharamkan yang halal — yang telah disepakati — atau mengganti syari’at — yang telah disepakati — maka dia kafir bedasarkan kesepakatan para fuqoha’.” (Majmu’ Fatawa III/ 267). Dan ia juga mengatakan : “Dan telah dimaklumi bahwa barangsiapa menggugurkan perintah dan larangan yang Alloh sampaikan melalui para Rasul-Nya maka dia kafir berdasarkan kesepakatan kaum Muslimin, Yahudi dan Nashrani. (Majmu’ Fatawa XIII/106)
Reply


Digg   Delicious   Reddit   Facebook   Twitter   StumbleUpon  


Users browsing this thread:
1 Guest(s)


  Theme © 2015