• 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Akhir Zaman dan Sulitnya Menempuh Amalan Jihad Fiisabilillah

#1
[Image: Jihad-Fisabilillah1.png]

Karena seluruh dunia, baik orang mukmin, orang kafir, orang jauh, orang dekat, orang shalih atau orang thalih (lawan dari shalih), sampai para ulama (kecuali yang dirahmati Alloh), maka ia akan memerangimu dan melampiaskan kemarahannya kepadamu karena kamu telah menyalakan cahaya jihad di hatimu untuk menyalakan api yang akan menguasai leher-leher kaum salibis dan orang-orang kafir.

Seandainya kamu melakukan ibadah apa saja di masa kini (qiyamul-lail, puasa di siang hari, menghafal Al-Qur’an, menuntut ilmu, dakwah. semua ibadah dalam segala macam dan bentuknya) tidak akan ada seorang pun yang marah kepadamu dan memusuhimu. Mereka semua akan rela denganmu. Kamu tidak akan menjumpai kesulitan-kesulitan atau penentangan, bahkan barang kali malah mereka akan membantumu.

Akan tetapi tidaklah kamu berpikir untuk pergi ke medan keperkasaan, kemuliaan, keluhuran dan pengorbanan kecuali pasti akan kamu dapati semua orang mengajak menentangmu, mengendorkan semangatmu, melemahkan tekadmu dan akan berusaha memalingkanmu dari jalan ini dengan segala cara. Sampai kami pernah mendengar ada ulama ketika ia mengetahui bahwa putranya akan pergi berjihad spontan ia menentangnya dan memusuhinya.

Namun seandainya putra ulama ini pergi ke negara kafir dan sumber kerusakan dan kerendahan untuk menyempurnakan studynya tentang ilmu-ilmu keduniaan niscaya akan kamu dapati banjir kalimat dorongan dan penyemangat dan niscaya akan ada dukungan moril kepada sang putra karena ia akan mengangkat kepala sang ayah dan membuat wajahnya berseri-seri di hadapan manusia (membuatnya menjadi orang yang terhormat di masyarakat). Laa haula walaa quwwata ilaa billaah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkhabarkan perkara ini, di mana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya syaitan akan duduk menghalangi anak Adam di seluruh jalannya. Ia duduk menghalanginya di jalan Islam, ia berkata, ‘Kamu masuk Islam dan meninggalkan dienmu, dien orang tuamu dan dien nenek moyangmu?’ Ia pun tidak mentaatinya lalu masuk Islam. Kemudian syaitan duduk menghalangi di jalan hijrah. Ia berkata, ‘Kamu mau hijrah dan meninggalkan tanah airmu.

Sesungguhnya permisalan orang yang berhijrah (muhajir) seperti permisalan kuda yang terikat (dalam arti kuda yang terikat dan realita seorang muhajir ia laksana terikat harus mendengar, taat, tidak bergerak dan dihalangi untuk melakukan banyak hal)! Ia pun tidak mentaatinya lalu tetap hijrah. Kemudian syaitan duduk menghalangi di jalan jihad. Ia berkata, ‘Kamu mau berjihad yang akan mengorbankan nyawa dan harta lalu kamu berperang dan terbunuh, istri dinikahi orang lain dan harta bendamu akan dibagi ke ahli warismu? Ia pun tidak mentaatinya lalu tetap berjihad. 

Maka barang siapa yang melakukan itu maka wajib atas Alloh untuk memasukkannya ke surga, dan barang siapa yang terbunuh maka wajib atas Allah untuk memasukkannya ke surga. 

Jika tenggelam maka wajib atas Alloh untuk memasukkannya ke surga dan jika ia dilemparkan tunggangannya sampai meninggal maka wajib atas Alloh untuk memasukkannya ke surga.” (HR. Nasa-i dan yang lainnya)

Al-Fadhl bin Ziyad berkata, ‘aku pernah mendengar Abu Abdullah (Imam Ahmad) ketika disebutkan kepadanya perkara perang. Beliau mulai menangis dan berkata,
‘Tidak ada amal kebajikan yang lebih utama darinya.’

Yang lain mengatakan beliau berkata,

“Tidak ada amalan yang pahalanya menyamai pahala bertemu musuh; dan memerangi mereka adalah amalan yang paling utama; dan orang-orang yang memerangi musuh, merekalah yang membela Islam dan kesuciannya, maka amalan apa yang lebih utama darinya. Orang-orang dalam keadaan aman sementara mereka dalam keadaan ketakutan. Mereka telah mengorbankan diri mereka demi Islam dan kaum muslimin.”

Baik kita katakan bahwa jihad fardhu ‘ain atau fardhu kifayah hasilnya sama, yaitu ‘terhalang dari ibadah jihad fi sabilillah dan ibadah-ibadah yang menyertainya.’ Tidak diragukan lagi bahwasanya apabila jihad fardhu ‘ain ‘sebagaimana di jaman kita ini’ maka perintah jihad menjadi lebih besar dan lebih agung.

Jihad adalah pembeda antara orang yang benar-benar cinta dan orang yang hanya mengaku cinta

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Adapun jihad, cukuplah itu sebagai ibadah. Ia adalah puncak ibadah dan yang paling tinggi. Ia adalah ukuran dan bukti pembeda antara orang yang benar-benar cinta dan orang yang hanya mengaku cinta kepada Alloh. Orang yang benar-benar cinta akan mempersembahkan nyawanya dan harta bendanya untuk Rabb dan ilahnya untuk mendekatkan diri kepada-Nya dengan mempersembahkan sesuatu yang paling ia cintai.

Ia sangat ingin seandainya ia memiliki nyawa sebanyak rambutnya yang akan ia persembahkan demi meraih kecintaan dan keridhaan-Nya dan sangat ingin seandainya ia terbunuh karena-Nya kemudian dihidupkan kemudian terbunuh kemudian dihidupkan kemudian mengorbankan dirinya untuk membela kekasih, hamba dan Rasul-Nya.

Sedang bahasa tubuhnya bertutur,
“Pecinta-Mu, menebus dirimu dengan jiwa, jikalau dia memiliki yang lebih mahal dari jiwanya, tentulah dikorbankan juga.”

Ia telah menyerahkan jiwa dan hartanya kepada pembelinya dan ia tahu bahwa tidak ada jalan untuk mengambil barang dagangan kecuali dengan memberikan harganya.

Alloh Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ ………….

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh………” (At-Taubah: 111).

Apabila sudah dimaklumi dan dipahami oleh manusia bahwa tanda kecintaan kepada Alloh dan setiap kecintaan yang benar adalah mengorbankan nyawa dan harta benda demi meraih keridhaan yang ia cintai. Maka yang ia cintai dengan benar {yang mana seharusnya cinta tidak diberikan kecuali kepadanya dan setiap kecintaan selain kecintaan-Nya maka kecintaan kepadanya adalah batil} ia lebih utama untuk mensyariatkan jihad kepada hamba-hamba-Nya yang mana jihad adalah sesuatu yang tertinggi yang dengannya mereka medekatkan diri kepada ilah dan rabb mereka.

Persembahan umat-umat sebelum mereka dalam sembelihan dan persembahannya adalah dengan mempersembahkan diri mereka untuk disembelih karena Alloh Pelindung mereka. Alangkah bagusnya ibadah ini. Oleh karena itu Allah menyimpannya untuk Nabi yang paling sempurna dan umat yang paling sempurna dari akal, tauhid dan kecintaannya kepada Allah.
Reply


Digg   Delicious   Reddit   Facebook   Twitter   StumbleUpon  


Users browsing this thread:
1 Guest(s)


  Theme © 2015